Cerita Para Ati di Rumah, Part 4 (tamat)

Sebelum saya lanjutkan cerita tentang para Ati (dibaca: Atik) bagian akhir, saya ingin mengajak  pembaca untuk mengingat kembali  tentang Sulastri anak tinggal saya ke 8 yang saya ceritakan pada Part 3

Beberapa hari yang lalu saya menemukan lagi Sulastri aktif di Facebook, kemudian saya sapa dan saya tanya kabarnya. Ternyata dia menjawab “ tidak baik” . kemudian saya kejar apa maksudnya, dan berceritalah ia, ternyata suaminya telah meninggal sekitar 5 bulan lalu, dan enam bulan sebelumnya ayahnya juga meninggal. Innalilahi Wa Innailahi Rojiun, Semoga keduanya husnul khotimah. Aamiin…

Karena kejadian tersebut dia mengatakan ibunya menjadi stres, sehingga sekarang Sulastri mengurus anak sekaligus ibunya. Selanjutkan komunikasi kami sekarang menjadi lancar. Saya berusaha memberikam motivasi padanya untuk tegar menghadapi kehidupan, meskipun tidak gampang menjadi single parent, terlebih pada usia yang masih sangat muda.  Meskipun kabar tentang dia kurang baik, tetapi saya senang setidaknya bisa menyambung silaturahmi dengan Sulastri. Dia juga berjanji akan singgah ke rumah jika ke Luwuk.

Baiklah sekarang akan saya lanjutkan 3  ati saya terakhir :

Maya (ke – 10)

Maya datang ke rumah kami atas rekomendasi dari Sulastri. Dia diantar ayahnya ke rumah saat mau masuk sekolah  di SMA tempat saya mengajar. Sebenarnya ayah Maya saat itu membawa dua orang anak, Maya dan sepupunya. Tetapi saya mengatakan hanya memerlukan seorang saja anak tinggal, karena saya khawatir anak bungsu saya semakin manja jika ada lebih dari seorang anak tinggal di rumah. Akhirnya sepupu Maya mendapat tempat tinggal lain, tetapi sekolahnya tetap sama dengan Maya.

Maya anaknya sangat alim, dia hanya melepaskan jilbabnya saat di dalam kamar. Meskipun kami di rumah hanya perempuan semua, Maya tetap mengenakan jilbab di dalam rumah  selain kamarnya. Maya lumayan pintar,dia selalu menduduki peringkat ke dua di kelasnya. Selain alim dan pintar dia juga rajin membantu pekerjaan saya di rumah.

Saat kelas dua akhir dia pamit untuk pindah, karena diajak sepupunya (tetapi beda dengan sepupu yang datang ke Luwuk bersamaan dengan dia yang ikut diajak ke rumah saat pertama datang) untuk menemaninya di kos. Saya mengijinkan dengan catatan setiap saya keluar kota atau keluar rumah pada saat malam hari, saya minta tolong untuk bisa menemani bungsu saya, diapun dengan senang hati menerimanya. Demikianlah lebih kurang setahun saya tidak memiliki ati, tetapi tidak ada masalah karena bungsu sudah besar, dan terlebih Maya selalu bisa datang menemaninya jika saya butuhkan.

Saat naik kelas tiga (kelas XII) , Adik Maya menyusul untuk masuk ke sekolah kami, namanya Salmin.

Sebelum lulus SMA Maya sempat minta ijin untuk tinggal lagi di rumah saya, karena sepupunya  tak lagi kos. Tentu saja saya terima dengan senang hati, karena memang tidak ada anak yang tinggal di rumah. Setelah lulus  SMA Maya melanjutkan kuliah di Gorontalo, saya dengar dia mengambil Fakultas Perikanan dan Kelautan. Sampai kini dia masih menjalani kuliahnya, tentu saya berharap Maya kelak menjadi orang  yang sukses dunia akhirat. Aamiin

Salmin (ke -11)

20160123_115302
Salmin paling kanan (jilbab coklat) bersama teman dan guru usai praktikum

Pertama datang dan sekolah di Luwuk Salmin masih ikut kakaknya (Maya) di kos. Sejak masih tinggal di kos saya sering mendengar nama Salmin disebut-sebut oleh teman – teman guru yang mengajar di kelasnya, bahwa dia seorang anak yang sangat pandai. Saat itu saya tak mengajar di kelasnya sehingga hanya bisa penasaran. Saya berpikir kakaknya (Maya) juga pandai, tetapi tidak sampai menjadi pembicaraan guru-guru, berarti Salmin ini jauh lebih pandai. Memang begitulah menurut informasi para guru.

Saat semester genap kelas X, Salmin diajak Maya untuk tinggal di rumah. Jadi saat Maya minta ijin untuk tinggal di rumah lagi, sekaligus minta ijin untuk mengajak adiknya. Sehingga untuk beberapa bulan dua orang kakak beradik ini tinggal di rumah. Setelah Maya lulus, Salmin tetap tinggal di rumah.  Salmin juga alim seperti kakaknya, dan sangat rajin sholat serta mengaji. Jilbab juga hanya dia lepas di dalam kamarnya. Jika saya panggil  dia memerlukan waktu beberapa detik untuk keluar kamar, karena mengenakan jilbab terlebih dulu. Padahal sekali lagi di rumah hanya ada saya dan bungsu saya dengan kata lain tidak ada laki-laki. Salmin juga rajin membantu pekerjaan di rumah, bahkan lebih rajin dibanding kakaknya.

Kamar Salmin terletak di dekat dapur, dan jika saya berjalan menuju dapur dia selalu keluar menanyakan “Ibu mau apa?” atau “ibu perlu apa?’. Dan jika saya akan memasak sesuatu dia selalu menawarkan diri untuk membantu. Tetapi bila dia merasa capek sekali dia pasti tertidur sangat pulas, dan tak mendengar suara apapun termasuk panggilan saya. Tetapi setelah dia bangun dia akan mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan. Sehingga jika dia telah tertidur, saya tak pernah membangunkan meskipun saya sangat memerlukan dia. Karena saya tahu kalau dia sudah ketiduran, itu tandanya dia sedang capek sekali.

Setelah naik kelas dua (XI) saya mengajar di kelasnya. Dan benar apa yang disampaikan teman-teman guru ternyata Salmin sangat pandai. Hingga wajarlah dia memperoleh juara umum I untuk kelas X dan juara umum I untuk seluruh sekolah. Sebagai anak kelas X dia bisa mengalahkan siswa kelas XI dan XII. Dan juara umum tingkatan dan sekolah tersebut bertahan, tak pernah tergeser sekalipun sampai dia kelas XII. Semua guru mengatakan hal itu pantas untuknya karena memang dia begitu menonjol dalam hal akademik di sekolah.

20161202_080402
Salah satu dokumentasi Saat salmin menerima hadiah dari Wakasek kesiswaan sebagai Juara Umum I Sekolah

Saat belajar di rumah, meskipun sendiri dia seperti punya teman. Jika berhasil menemukan jawaban suatu soal yang memerlukan perhitungan seperti matematika atau fisika dia biasa berteriak “Yaaa!” , hingga membuat saya kadang terkejut. Seringkali teman-teman sekolahnya datang ke rumah untuk minta bantuan menyelesaikan tugas.

Jika menceritakan Salmin, saya sangat bersemangat karena anak ini hampir tak punya kekurangan di mata saya. Selain pandai di sekolah dia juga sangat rajin sholat dan mengaji.Setiap selesai sholah Maghrib dia selalu menyempatkan mengaji sampai datang Isya. Tetapi jika dia saya ganggu setelah maghrib, maka bisa dipastikan dia mengaji selesai Isya. Selain itu dia juga rajin mengikuti kajian-kajian keagamaan.

Setelah lulus SMA, Salmin mendaftar SNMPTN tetapi tidak lolos. Kami semua para guru juga heran, karena nilai Salmin bagus-bagus, mungkin saja karena jurusan pilihannya banyak sekali peminatnya .  Tapi Salmin tidak tampak turun mental meskipun tidak lolos SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Kemudian dia mengikuri SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguguruan Tinggi Negeri), dia mengikuti tes di Gorontalo, karena kebetulan kakaknya sudah di sana. Bersamaan dengan itu saya mendapat tawaran dari seorang teman, jika ada anak murid yang mau mengikuti program beasiswa di UTS (Universitas Teknologi Sumbawa), NTB. Program beasiswa ini ditanggung semua beaya kuliah, asrama, dan diberi uang saku Rp. 500.000 sebulan. Dan yang lebih menggiurkan Tiket pesawat dan tiket darat untuk sampai ke sana ditanggung semua. Maka tawaran ini saya teruskan kepada Salmin, saat itu dia masih tinggal di rumah, dan belum lulusan. Setelah dia pikirkan akhirnya dia  setuju mengikuti proses seleksi Beasiswa di UTS dan alhamdulillah diterima di Fakultas Teknik jurusan Teknobiologi. Sebenarnya pada SBMPTN dia juga lulus di UNG (Universitas Negeri Gorontalo), tetapi dengan berbagai pertimbangan dia memilih UTS.

Akhirnya sekarang dia menjalani kuliah di UTS Sumbawa NTB dengan fasilitas beasiswa. Beberapa kali dia menanyakan kepada saya melalui WhatsApp, terkait tugas kuliahnya yang ada kaitannya dengan materi yang pernah saya ajarkan di sekolah. Terakhir kabar darinya dia sedang mengikuti berbagai lomba karya tulis dan Essai. Rupanya dia juga ada minat di bidang tulis menulis. Semoga saja dia selalu mencapai keberhasilan dalam hidupnya. Aamiin

Dita (ke- 12)

Setelah Salmin lulus dan melanjutkan kuliah ke Sumbawa, maka saya berusaha mencari anak tinggal lagi. Terlebih karena saya tinggal seorang diri di rumah, setelah sulung (yang sempat beberapa bulan di rumah)  menikah dan adeknya si bungsu melanjutkan sekolah di luar kota. Berbeda dengan ati-ati sebelumnya yang kebanyakan ada yang merekomendasikan, kali ini ini tak ada seorangpun yang dapat merekomendasikan anak sekolah yang bisa tinggal di rumah. Maka saya akhirnya mencari sendiri dengan cara menawarkan kepada siswa-siswa kelas X di sekolah saya. Dan akhirnya ada seorang siswa yang bersedia tinggal di rumah, yakni Dita. Dita anaknya berpostur kecil langsing dan sangat pendiam. Anak ini mulai tinggal di rumah bulan Oktober 2017. Meskipun berpostur kecil tetapi ototnya kuat, sama dengan Rosmita dia kuat mengangkat galon air.

Dita juga rajin, tetapi cara berbicara, gerak gerik tubuhnya dan perilakunya menunjukkan dia kurang memiliki etika. Dari sekian banyak para ati saya, Dita lah yang memberi banyak kenangan negatif pada saya.  Dia pernah keluar rumah tidak pamit dan hanya sms mengatakan sedang membeli buku saat sudah di luar rumah.

Yang lebih membuat saya tidak senang, suatu malam sehabis maghrib  ada seorang cowok menjemputnya dengan mengenderai motor. Cowok ini mengetuk pintu rumah dan setelah saya bukakan dia mengaku temannya Dita. Setelah Dita saya panggilkan mereka hanya berbicara sebentar di teras, setelah itu Dita masuk kamar dan tak lama kemudian dia keluar dan tampak rapi siap mau keluar rumah. Dia tidak mengatakan minta ijin keluar terlebih dahulu sebelum ganti baju. Dan setelah siap baru mengatakan “ibu mau keluar dulu ada disuruh mamak”. Setelah saya tanya “ disuruh apa oleh mamakmu?’ Dia mengatakan mengambil baju.

Sementara saya sedang berfikir antara mengijinkan atau tidak dia langsung keluar rumah.  Akhirnya sambil agak  berteriak karena dia sudah di luar saya mengatakan jangan lama-lama perginya. Dia menjawab “iya”, tetapi saya tunggu hingga jam 10. 00 malam belum juga pulang. Saya berusaha menelponnya tetapi tidak aktif Hpnya, sehingga saya sms padanya dan mengatakan jika pulang ketuk saja pintu di depan supaya saya mendengar, karena saya sudah mau tidur. Sms tidak ada jawaban bahkan saya susuli sms kedua yang menanyakan kapan dia pulang pun tak terjawab. Akhirnya saya tertidur dan terbangun jam 12,00 saya kaget karena belum ada ketukan pintu dari Dita. Saya kemudian memencet nomornya untuk menelphone nya dan tersambung tetapi tidak diangkat.

Dan akhirnya baru pagi hari nya saat saya sibuk di dapur dia pulang. Saat itu saya tanyakan apa semalam pulang dan ketuk pintu saya tidak dengar, dia menjawab “tidak”. Maka dengan nada lain saya bertanya dimana dia tidur, dia mengatakan tidur di rumah tantenya (tempat sebelum dia tinggal di rumah saya).

Setelah dia berangkat sekolah perasaan saya tidak enak, hingga saya menelpon mamaknya untuk konfirmasi apa benar menyuruh Dita mengambil baju, dan ternyata mamaknya menjawab “tidak”. Maka saya langsung menceritakan apa yang dilakukan Dita semalam.

Setelah tahu dia berbohong, sorenya dia saya tanyai kebenarannya apa yang dilakukan semalam dan menginap di mana. Akhirnya dia mengaku pergi ke salah satu  tempat nongkrong-nongkrong nya orang Luwuk. Pulang dari nongkrong-nongkrong dia tidur di kos seorang teman cowok, tetapi pengakuannya di situ ada  cewek lain selain dia. Tentu saja saya langsung marah, tetapi mau mengusirnya dari rumah saya tidak tega, apalagi dia minta maaf pada saya dan berjanji tak akan mengulanginya lagi.  Saya hanya mengatakan padanya  jika sekali lagi dia bersalah maka silahkan pindah. Diapun mnejawab “ iya ibu”

Hari berganti sampailah liburan semester dan dia pulang dengan tidak pamit lagi, melainkan hanya mamaknya yang menelopon jika Dita mau pulang. Hal itu tak terlalu saya pikirkan, karena saya pikir memang anaknya kurang ada etika. Setelah kembali dari liburan dan sekolah sudah masuk, dia menunjukkan kemalasan dalam membantu saya di rumah. Setiap saya tanya dia mengatakan pusing. Setelah sempat menolak saya suruh berobat, akhirnya suatu hari saya paksa untuk berobat sendiri saat saya tinggal ke sekolah dengan saya tinggali uang.

Namun kali ini ternyata dia tidak ke puskesmas, tetapi ngotot  mengaku ke puskesmas dan setelah saya meminta  melihat obatnya, dia hanya menunjukkan obat sakit  kepala Panadol.

Dengan kebohonganya yang terakhir ini, saya sudah semakin tak percaya lagi padanya. Saya menelpon mamaknya dan mengatakan kebohongannya itu juga mengatakan ketidakpercayaan saya lagi padanya.

Sehari setelah saya menelphon mamaknya dia pergi dari rumah tanpa pamit. Tahu-tahu saya periksa kamarnya sudah kosong, dan setelah saya telphon dia mengatakan sudah pergi ke rumah neneknya. Keesokan harinya dia sempat ke sekolah, tetapi kemudian tak datang lagi ke sekolah hingga berhari-hari. Saat orang tuanya ditelpon guru BK mengatakan jika dia mau pindah sekolah di kampungnya. Tetapi belum sempat mengurus surat pindah, saya mendengar kabar jika dia baru saja menikah.

Setelah pengalaman dengan Dita ini, saya sekarang belum memiliki ati lagi. Dan saya juga belum berniat untuk mencarinya. Keluarga, teman, dan tetangga  masih banyak yang menyarankan saya mencari teman untuk tinggal di rumah. Karena khawatir jika saya sakit atau perlu bantuan ada seseorang yang mengetahui. Tapi saya belum terpikir untuk mencari ati dalam waktu dekat, karena ada sedikit trauma pengalaman dengan Dita.  Alhamdulillah lebih kurang 3 bulan ini saya tinggal seorang diri di rumah semuanya baik-baik saja. Semoga saja selalu demikian.

Kesimpulan :

Dari 12 orang para Ati saya di rumah yang saya ingat, baik  yang sekolah maupun yang tidak sekolah memberikan saya berbagai pengalaman dan pembelajaran dalam hidup. Yang pasti saya merasa mereka sangat berjasa pada saya terutama dalam menjaga anak-anak saya, sehingga saya dapat melakukan peran ganda saya sebagai ibu rumah tangga dan wanita yang berkarir di luar rumah  dengan lancar.  Banyak hal yang terjadi baik positif maupun negatif, bahkan kenangan lucu dan menggelikan terkait dengan keberadaan para Ati di rumah, tetapi Alhamdulillah lebih banyak dari mereka yang menorehkan kenangan positip pada saya, anak-anak saya, dan ayahnya tentu saja, hingga saya yakin kenangan itu tak kan mudah hilang begitu saja dari ingatan kami.  Bahkan ati  yang bernama Salmin sangat menginspirasi saya dan anak-anak saya, karena kepandaian dan kesalehannya. Satu hal yang saya syukuri pula para ati yang tinggal pada saya rata-rata dapat bertahan lama di rumah. Itu karena resep seorang teman yang diberikan kepada saya, bahwa kita harus banyak mengalah dan bersabar jika ingin ati krasan di rumah kita. Kita juga mesti memperlakukan mereka seperti keluarga sehingga mereka nyaman bersama kita.

Tapi di luar itu karena kesabaran dan keikhlasan para ati saya jua lah yang menyebabkan mereka krasan di rumah, terutama ati yang sekolah, karena termotivasi untuk dapat mengenyam pendidikan yang lebih baik, dibandingkan jika dia sekolah di kampungnya. Harapanku  mereka yang masih hidup akan menjalani hidupnya dengan baik dan berkah, serta meraih kesuksesan dunia akhirat. Dan Erna yang telah kembali kepada-Nya mendapat tempat terbaik di akhirat, anak-anaknya dapat dibesarkan dengan baik oleh keluarganya, serta suami dan anak-anaknya bisa selalu mendoakannya.   Aamiin…

Terimakasih para pembaca yang telah berkenan mengikuti cerita saya selama 4 bagian dan mohon maaf bagian akhir ini jika membosankan karena  terlalu panjang.

 

Iklan

Senang dan Menyesal (coretan asal jadi)

Akhir-akhir ini lebih banyak waktu luang kumiliki. Karenanya seringkali aku mengingat masa-masa yang telah kulewati, yakni  masa TK, SD, SMP,  SMA, Kuliah, Menikah, Mulai kerja, punya anak-anak balita, anak-anak  mulai sekolah, anak-anak mulai kuliah, dan akhirnya babak baru telah  kulewati yakni menikahkan sulungku pada  tahun lalu. Dan untuk beberapa bulan ke depan, tahap baru lagi  InsyaAllah akan kujalani  yakni menjadi seorang nenek . Mohon doanya pembaca, semoga sulungku dimudahkan Allah dalam melahirkan anaknya yang tentu saja merupakan cucuku nanti. Aamiin

Mengingat semua peristiwa  masa lalu, terkadang terasa belum lama terjadi. Tapi faktanya semuanya telah  beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun terlewati. Waktu berjalan terasa begitu cepat, tanpa bisa disuruh melambat sedikit pun.  Saya kadang terkaget-kaget dengan even-even penting yang setiap tahun harus dijalani. Misalnya beberapa hari lagi siswa-siswa di sekolah akan menghadapi Ujian Nasional 2018 dan saya merasa baru-baru  menjadi panitia UN 2017. Tak lama lagi Bulan Rhamadan akan datang, dan saya juga merasakan menjalani puasa Rhamadhan tahun lalu belum  lama.

Hari ini aku kembali terkaget-kaget, mengapa bilangan usiaku bertambah lagi…? Ya… Lebih setengah abad kini usiaku, dan tak bisa lagi dibilang muda. Teman SMAku telah dua orang yang mendahului kami, serta beberapa  teman kerjaku juga  telah pergi pada usia di bawahku. Bahkan suamikupun meninggal dunia pada usia 3 tahun di bawah usiaku kini. Alhamdulillah ya Allah …atas anugerah nafas  yang masih kuhirup sampai detik ini, juga anugerah-anugerah lainnya.

Aku senang masih dapat melihat dunia hari ini dan tentu saja berharap tahun-tahun mendatang masih melihatnya lagi. Tetapi juga semakin menyesal, apa saja amal kebaikan yang telah kulakukan selama ini. Rasanya terlalu sedikit  dibanding nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadaku. Padahal aku tak tahu berapa lama lagi masih diberi kesempatan untuk bisa beramal lagi?

Penyesalan seperti itu tahun-tahun lalupun kualami, tetapi tahun ini rasanya semakin  bertambah lagi. Apakah ini karena aku semakin menyadari bahwa  jatah hidupku semakin berkurang, sehingga timbul ketakutan terhadap semakin dekatnya batas usia?  Entahlah … yang pasti aku menyadari bahwa masih banyak hal yang mesti kuperbaiki ke depannya. Semoga tidak hanya berhenti pada kesadaran, tetapi ada tindakan nyata untuk melakukan nya. Aamiin….

Cerita Para Ati di Rumah, Part 3

Part 1

Part 2

Pembaca, kini saya lanjutkan kisah para ati (dibaca: Atik) di rumah yang ke 7, 8, dan 9.

Erna (ke- 7)

Erna datang ke rumah kami karena ada seseorang yang sengaja kami mintai tolong untuk mencarikan anak tinggal.  Dia berasal dari suatu desa di Kecamatan Lamala, yang letaknya tak begitu jauh dari Luwuk, hanya sekitar dua jam perjalanan menggunakan mobil.  Dia  kami gaji tiap bulan karena memang kami sengaja mencari anak yang tidak sekolah untuk menjaga anak ketiga kami yang masih kecil.

Erna sebetulnya keturunan Jawa tetapi tak bisa berbahasa Jawa, karena sejak kecil tinggal di lingkungan suku Saluan, salah satu suku asli Kab. Banggai. Erna berpostur tinggi dan dan lumayan agak  besar. Orangnya rajin dan sabar serta sangat sayang pada anak saya (bungsu), hingga bungsu  sangat dekat dengannya.  Salah satu tanda kedekatan itu jika ia pulang untuk lebaran atau menengok orang tuanya anak saya menangis tidak mau ditinggal. Bahkan seandainya saya ijinkan bungsu minta ikut Erna pulang ke kampungnya. Tetapi saya tak pernah  ijinkan, karena saya tentu tak akan bisa tidur jika dia pergi tanpa saya.

Sekitar 4 tahun lebih hubungan kami dan Erna sangat baik, sampai suatu saat ada hal yang menyebabkan hubungan kami tidak lagi harmonis. (penyebab ketidakharmonisan itu tadinya saya tuliskan sekitar 15 baris tetapi sekarang saya potong bagian itu karena suatu alasan yang akan anda ketahui di akhir cerita tentang dia)

Beberapa bulan setelah tidak harmonis Erna pamit pulang, dan kemudian saya mendengar kabar dia telah menikah  dan  tinggal tidak jauh dari rumah saya. Saya pesan pada temannya supaya dia  main ke rumah, dan akhirnya suatu hari dia singgah ke rumah dengan menggendong anaknya. Dia mengatakan sebenarnya sudah lama ingin datang ke rumah, tetapi malu dan takut sama saya. Setelah saya pesankan untuk datang barulah dia memberanikan diri untuk singgah. Akhirnya hubungan kami menjadi baik kembali dan dia sering main ke rumah saya dengan membawa anaknya.

Terakhir dia datang ke rumah lebaran idul fitri tahun lalu, dengan membawa dua orang anaknya. Setelah itu masih sempat ketemu di jalan depan rumah, saat itu dia kelihatan agak kurus dan saya tanya mengapa turun badan, dia mengatakan kurang sehat. Saya waktu itu hanya menasehati untuk memeriksakan saja supaya jelas penyakitnya apa.

Setelah pertemuan itu kami tak pernah lagi bertemu, karena ternyata dia sudah pindah tempat tinggal yang agak jauh dengan rumah kami. Kabar itupun cuma saya dengar dari tetangganya yang hanya disebut daerahnya, tetapi tidak terlalu jelas alamatnya. Saat saya akan menikahkan sulung saya ingin mengabarinya dan berharap dia bisa ikut membantu-bantu di rumah. Tetapi saat saya mau menghubunginya ternyata nomor Hpnya tak lagi tersimpan di Hp saya karena HP saya pernah disetel ulang dan banyak nomor yang hilang.

Akhir-akhir ini saya sering mengingatnya terutama setelah saya mulai menuliskan cerita para ati di rumah. Di suatu subuh tiga hari yang lalu saya menuliskan cerita tentang dia dan saya rencanakan segera saya posting sore harinya. Selesai mengetik matahari sudah bersinar terang dan saya keluar rumah untuk menyapu halaman.  Tak lama kemudian seorang ibu tetangga Erna saat belum pindah  lewat di depan rumah dan mengatakan bahwa Erna telah meninggal dunia kemarinnya di rumah sakit Luwuk, tetapi jenazahnya langsung dibawa pulang ke kampung halamannya. Tentu saja saya kaget sampai gemetaran, tapi tak lupa mengucap “Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun”.

Menurut ibu tersebut kemarin dia mau mengabari saya tetapi saya masih di tempat kerja. Tentu saja saya bertanya tentang keberadaan  Erna selama ini, dan dia mengatakan Erna sakit sejak masih tinggal di lingkungan kami, dia mengatakan sakit gondok beracun. Saya jadi ingat dia mengatakan kurang sehat saat terakhir bertemu. Ternyata berlanjut sampai sekarang hingga menjemput ajalnya. Ya Allah …. saya menyesal merasa tidak maksimal mencari tahu keberadaan Erna  beberapa bulan ini.

Akhirnya hari itu sepulang kerja, saya pergi ke kampung halamannya untuk menjumpai orang tua, suami, anak, dan keluarganya. Dan tentu saja saya sempatkan ziarah ke makam Erna.

IMG_20180322_161510
Foto koleksi keluarga Erna .

Selamat Jalan erna,  Semoga amal ibadahmu di terima dan dosa-dosamu diampuni Allah SWT, dilapangkan kuburmu dan mendapat tempat terbaik di akhirat, Aamiin.

Rosmita (ke -8)

Rosmita berasal dari suatu desa di Kecamatan Bulagi Kab. Bangkep. Ia datang untuk tinggal di rumah saya dibawa oleh ayahnya, yang kebetulan ada sedikit hubungan pekerjaan dengan suami saya. Padahal saat itu di rumah telah ada Erna, tetapi suami saya bilang gak apa-apa menolong orang, sayapun juga tak keberatan.

Rosmita anaknya berbadan tinggi besar dan cenderung gemuk. Sesuai dengan bodynya dia kuat mengangkat benda-benda berat termasuk mengangkat galon air. Dia periang dan suka bergaul, tetapi dia telah menunjukkan pubernya sejak tahun-tahun pertama tinggal di rumah. Hanya saja sampai 3 tahun di rumah dia  masih bisa dikendalikan, mungkin karna sibuk dengan tugas  – tugas sekolah. Tetapi di akhir-akhir kelas 3 Ros semakin menunjukkan pubernya. Ada teman yang sering melaporkan bahwa malam-malam bertemu Ros dengan cowoknya di luar.

Setelah dia lulus, sebenarnya ayahnya ingin dia kuliah di Luwuk dan tetap tinggal di rumah. Tetapi saya mengatakan  terus terang pada ayahnya untuk membawa pulang saja anaknya, karena saya khawatir terjadi hal-hal yang tidak diingainkan terhadapnya. Akhirnya Ros dibawa pulang ayahnya dan dikuliahkan di Bangkep. Tetapi tak lama kemudian saya mendengar kabar dia telah menikah dan tak melanjutkan lagi kuliah karena harus mengurus bayinya.

Meskipun telah pulang kampung, hubungan kami tetap baik, jika ke Luwuk dia juga singgah ke rumah. Tetapi beberapa bulan ini kami tak lagi bertemu sejak ibunya meninggal. Sama dengan kasus Erna, karena Hp disetel ulang maka saya juga kehilangan nomor Rosmita. Saya hanya bisa berdoa semoga Rosmita baik-baik saja

Sulastri (ke-9)

Sulastri datang ke rumah atas rekomendasi dari Rosmita. Dia juga melanjutkan sekolah SMA di Luwuk. Sulastri posturnya kecil dan pendek, berambut lurus panjang selalu diikat jika  dirumah. Anak ini sangat pendiam, tetapi baik dan rajin. Dia sering saya mintai tolong untuk memijit kaki  jika saya kurang enak badan dan dia selalu melakukannya dengan senang hati. Selama tiggal dengan saya dia begitu manis tak pernah menunjukkan kenakalan sama sekali, sehingga relatif tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang dia. Yang saya ingat tentang Sulas,  anaknya tidak mau makan daging ayam atau  daging sapi, tetapi suka  ikan atau tempe tahu.  Selain itu yang saya ingat saat selesai ujian  dan dinyatakan lulus, dia tetap di rumah dan tidak buru-buru pulang kampung. Ternyata setelah lebih dari seminggu kedua orang tuanya datang untuk menyampaikan rasa terimakasih pada saya dan meminta ijin untuk membawa pulang anaknya. Saya baru tahu ternyata dia tidak segera pamitan sendiri karena menunggu dipamitkan orang tuanya. Saat orang tuanya datang, ibunya memeluk erat tubuh saya sembari mengatakan terimakasih. Selain itu berkali-kali ia mengatakan “kasihan ibu sekarang tak ada lagi teman”. Dan saya selalu  menjawab “ gak apa-apa bu, nanti saya mencari anak tinggal lagi”

Setelah pulang kampung tak lama Sulastri pergi ke Palu untuk melanjutkan kuliah di Universitas Tadulako. Pada awal-awal kuliah kami masih sempat komunikasi melalui facebook. Kabar terakhir dia juga telah menikah dan memiliki seorang bayi, tetapi kemudian  facebooknya tidak aktif lagi, sehingga tidak saya ketahui lagi kabarnya. Harapankupun sama seperti pada Rosmita,  semoga Sulastri  baik-baik saja. Aamiin.

Sekian dulu cerita singkat para ati saya kali ini, akan dilanjutkan bagian akhir pada postingan berikutnya.

 

 

Mahar Ketinggalan

Kemarin pagi saya pergi menghadiri akad nikah seorang teman kerja. Teman yang menikah ini laki-laki dan memperoleh seorang jodoh gadis dari daerah kecamatan di luar kota yang jaraknya satu jam  perjalanan dengan mobil dari Luwuk. Pernikahan di laksanakan di rumah sang gadis.

Rencana pelaksanaan akad nikah adalah jam 09.00 Wita. Maka sehari sebelumnya kami telah merencanakan berangkat dari Luwuk jam 08.00 Wita dan akan berangkat bersama rombongan pengantin laki-laki dan keluarganya. Sesuai rencana kemarin rombongan berangkat lebih kurang  jam 08. 00.  Mobil yang saya tumpangi berada pada barisan paling belakang, karena memang sedikit terlambat sehingga mesti mengejar rombongan dan alhamdulillah setelah beberapa menit berjalan sempat terkejar. Maka tampaklah iringan mobil rombongan pengantin yang jumlahnya lumayan banyak, mungkin ada sekitar 20 an mobil.

Perjalanan lumayan lancar, karena jalan yang sudah begitu mulus. Setelah hampir satu jam perjalanan, dengan kata lain sudah hampir sampai di rumah kediaman pengantin perempuan, mobil-mobil di depan kami semuanya berhenti. Mau tak mau mobil yang kami tumpangipun juga ikut berhenti. Kami semua bertanya-tanya di dalam mobil mengapa rombongan berhenti, tapi sampai beberapa menit tak ada yang tahu. Kami berniat saling menelpon teman, tapi di tempat itu tak ada jaringan sama-sekali. Mau keluar dari mobil, cuaca sangat panas, akhirnya kami menunggu saja di dalam mobil.

Untunglah sekitar 15 menit kemudian ada teman dari mobil yang berada agak jauh dari mobil kami yang keluar dan menuju mobil kami. Tentu saja kami langsung menanyakan apa masalahnya sehingga berhenti, dan teman kami mengatakan “mahar ketinggalan”. Kami semua seketika tertawa geli dan kemudian keluar dari mobil. Untunglah mobil kami yang paling dekat dengan penjual buah. Sehingga kami bisa duduk-duduk di Lapaknya sembari menikmati buah salak yang dibeli salah seorang teman kami.

Lumayan lama kami menunggu pengantar mahar sampai di tempat itu, mungkin lebih satu jam. Berbagai komentar muncul akibat ketinggalan mahar ini, tetapi yang pasti masih disyukuri bahwa diketahuinya mahar ketinggalan belum sampai di tempat akad nikah. Alhamdulillah setelah pengantar mahar datang, maka perjalanan dilanjutkan dan hanya sekitar sepuluh menit sampai di tujuan.  Setelah persiapan sebentar makan akad nikah baru bisa dimulai jam 10.15 WITA. Alhamdulillah akad nikah berjalan lancar.

Setelah prosesi akad nikah pengantin didudukkan di pelaminan. Mungkin efek dari ketinggalan mahar, wajah pengantin laki-laki masih tampak tegang dan jarangs enyum selama duduk di hadapan undangan, Sehingga para undangan sempat beberapa kali mengingatkan ” Senyum dong …. pengantin pria …”

Pengalaman akad nikah tentu tak akan dilupakan oleh pasangan pengantin seumur hidupnya. Tetapi pengalaman mahar ketinggalan saya yakin akan semakin mengingatkan sang pengantin tentang hari bersejarahnya tersebut. Tak lupa selamat menempuh hidup baru kawan (yang lebih pantas saya sebut nak) … Semoga menjadi pasangan yang selalu harmonis sampai kematian memisahkan serta kelak dikaruniai anak-anak yang sholeh dan sholekhah. Aamiin….

Bagi kita yang menyaksikan dan membaca kisah ini setidaknya bisa mengingatkan anak/adik/tetangga atau bahkan diri sendiri (bagi para jomblowan) untuk tidak sampai ketinggalan mahar saat menikah nanti. Semoga …!

 

 

 

Cerita Singkat Para Ati di Rumah, Part 2

Apa kabar pembaca? Semoga semua dalam kondisi baik dan sehat ya.  Aamiin

Baiklah saya akan lanjutkan cerita singkat para ati (dibaca :Atik) yang pernah tinggal di rumah saya. Setelah 3 orang Ati yang telah saya ceritakan pada postingan Part 1, kini giliran Ati ke 4, 5, dan 6

Dewina (ke-4)

20180315_142756[1]
Dewina menggendong anak kedua saya
Dewina berasal dari suatu desa di wilayah Kec. Bulagi.  Daerah ini sekarang tidak lagi menjadi wilayah administrasi Kab. Banggai karena telah menjadi bagian dari Kab. Banggai Kepulauan (Bangkep) sebagai hasil pemekaran wilayah Kab. Banggai. Untuk pulang pergi  Luwuk – Bangkep harus ditempuh dengan  kapal motor atau kapal Ferry menyebrangi selat Peling.

Meskipun bukan  keturunan Jawa, tetapi Dewi tidak keberatan dipanggil “mbak Dewi” oleh saya dan anak-anak saya. Dewi juga lulusan SD  dan tak melanjutkan sekolah, sehingga sama seperti Mariati dan Reni, dia kami gaji setiap bulan.

Dewi berwajah manis, postur tubuh sedang, dan berambut agak keriting khas kebanyakan orang dari daerah tersebut. Dewi adalah anak tinggal terlama yang pernah saya miliki, yakni mulai sulung saya berumur menjelang 3 tahun  dan belum memiliki adik sampai sulung sekolah SMP dan telah memiliki dua adik.

Namun demikian bukan berarti dia terus menerus selama itu tinggal di rumah saya. Ada kalanya dia pamitan pulang untuk istirahat atau membantu orang tuanya di kampung beberapa bulan, kemudian balik lagi ke rumah saya dan saya terima lagi. Dewina juga satu-satunya anak tinggal yang pernah kami ajak mudik ke kampung halaman saya di Sukoharjo Jawa Tengah, saat anak kedua saya masih kecil.

Karena paling lama tinggal di rumah, maka kenangan kami terhadap  Dewi ini mungkin yang paling banyak dibanding ati lain. Yang paling saya ingat tentang dia, saat saya suruh belanja di Toko Maju, karena ada kejadian menggelikan. Toko Maju adalah toko paling terkenal di Luwuk saat itu, yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok dan kue-kue. Saat itu saya meminta dia membeli kue “Lumpia” selain barang lain yang tidak banyak.

Saya tidak tahu apakah di toko maju menyediakan lumpia atau tidak, tapi saya mencoba saja menyuruhnya membeli, siapa tahu ada. Tapi saat mengatakan saya hanya menyebut “lumpia” tanpa kata “kue”. Dia tidak bertanya , sehingga saya pikir dia paham apa saja yang saya suruh beli, termasuk lumpia. Tetapi setelah dia pulang, saya baru tahu ternyata ada barang yang Dewi tidak pahami, yang harus dibeli.

Saat sampai di rumah, dia membawa belanjaan lumayan berat dan  sekilas terdengar ada botol-botol yang beradu satu sama lain dalam plastik kresek warna hitam yang dia tenteng. Seketika saya bertanya “ Dewi, apa yang kamu beli kok ada botol-botol sepertinya?”. Maka Dewi menjawab “ Yang ibu suruh Columbia”.

Setelah saya lihat, Waduh !!! rupanya Dewi membeli minuman keras merk “ Columbia”. Saya langsung berkomentar “ Ya Allah Dewi,  seumur-umur ibu belum pernah beli minuman keras”, dan merk Columbia-pun baru saya tahu saat itu. Dewi hanya nyengir sambil menjawab “ Ohhh saya tidak tahu ibu”. Akhirnya saya suruh dia mengembalikan minuman keras itu, dan bersyukur pihak toko menerima kembali.  Saya cukup lega meskipun tak memperoleh  lumpia di toko maju karena memang belum ada saat itu. (tapi sekarang sudah banyak sekali lumpia di Toko maju atau toko lain di Luwuk).

Dewi juga sangat rajin dan jujur, dan tak pernah “kenal” cowok  selama tinggal dengan saya. Tapi satu kekurangan Dewi yang sebenarnya manusiawi, jika  capek dan kesal dalam menghadapi dua anak saya yang masih kecil yang kadang “nakal”,  dia kurang sabar, hingga pernah beberapa kali membentak anal-anak saya. Perasaan saya kadang kurang enak,  tetapi karena saya membutuhkan jasanya, terutama menjaga anak saat saya berkerja maka dia saya pertahankan. Itulah salah satu dukanya ibu-ibu  yang bekerja di luar rumah. Apapun saya merasa sangat terbantu dengan keberadaan Dewi di rumah saya dalam kurun waktu yang lama.

Dewina sekarang telah menikah dengan laki-laki sekampungnya dan telah dikaruniani dua orang anak. Setelah tak lagi di rumah dia sempat singgah beberapa kali saat berkunjung ke Luwuk, terutama setelah menikah.

Roswita (ke -5)

Nama anak ini bisa diibaratkan hanya numpang lewat. Yang saya ingat anaknya cantik, tinggi langsing, dan murah senyum.  Dia berasal dari Toili juga seperti 3 anak tinggal saya yang pertama dan di rumah sebagai anak tinggal yang digaji, karena tidak sekolah.  Saya sudah lupa kampungnya tepatnya di Unit berapa dan siapa yang mencarikan Roswita hingga sampai ke rumah saya. Yang saya ingat dia baru seminggu tinggal di rumah, pergi tanpa pamit. Saya tidak tahu apa penyebabnya, karena tak ada kasus apa-apa di rumah saya. Tapi seingat saya, sepertinya ada barang kami yang hilang saat dia pergi, tetapi sekarang saya lupa barang apa yang hilang saat itu.

Desmin (ke -6)

20180315_142822[1].jpg
Desmin sedang menuntun anak kecil (anak ketiga saya)
Desmin merupakan adik kandung dari Dewina dan tentu saja tinggal di rumah saya karena Dewi yang membawa. Dewi meminta ijin untuk mengajak adiknya tinggal di rumah karena adiknya ini  melanjutkan sekolah SMP di Luwuk. Tentu saja saya menerimanya, karena Dewi sudah lumayan lama tinggal di rumah saat membawa adiknya tersebut. Saya juga berfikir jika ada adiknya di rumah, tentu dia akan lebih krasan, dan kenyataanya memang demikian adanya.

Desmin posturnya lebih tinggi dibanding Dewi, tetapi rambutnya lebih keriting. Dia juga lebih sabar dan tak pernah membentak anak-anak saya. Setelah kakaknya pulang kampung dia sempat pamitan untuk tinggal di rumah kerabatnya dengan alasan rumahnya lebih dekat ke sekolah. Tetapi kemudian dia kembali ke rumah saya dan setelah lulus SMP saya masukkan sekolah di SMA tempat saya mengajar.

Selama tiga tahun di SMA dia tetap tinggal di rumah, bersekolah dengan rajin dan tak pernah ada masalah di sekolah, meskipun prestasi belajarnya biasa-biasa saja.  Di rumahpun dia sangat rajin bekerja  dan tak pernah mengeluh. Setelah tamat SMA dia tetap tinggal di rumah sekitar setahun. Setelah itu dia pulang kampung dan di kampung mendapat tawaran honoran mengajar di SD. Karena di Kampungnya masih kurang tenaga pengajar, maka dia yang tamat SMA pun bisa mengajar. Sambil mengajar dia melanjutkan kuliah di Untika (salah satu perguruan Tinggi Swasta di Luwuk) yang membuka kelas jauh di kampungnya. Sekarang dia sudah menjadi sarjana dan tetap menjadi guru di kampungnya.

Meskipun telah tinggal di kampung yang lumayan jauh dari tempat tinggal saya, setiap menjelang lebaran dia menelpon saya dan menawarkan diri untuk datang ke rumah guna membantu kerepotan saya menjelang dan saat lebaran.  Biasanya dia di rumah saya sekitar seminggu sampai 10 hari. Dia bersedia membantu saya dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan. Dan jika dia sudah datang maka bersih semua seluruh sudut rumah saya.

Semua barang dia bersihkan termasuk mengelap kaca, mencuci gorden, bahkan mencuci tempat-tempat bumbu saya.  Dapur dan Jendelanya  yang sangat kotor karena percikan minyak yg telah bertumpukpun dia bersihkan pula. Dan semua dia kerjakan tanpa saya suruh sama sekali. Tentu saja karena saya merasa sangat terbantu, saya tetap memberikan imbalan padanya saat pulang, meskipun awalnya dia tidak mau menerima, tetapi saya paksa untuk menerimanya.

Keadaan seperti itu berlangsung tiap tahun mungkin sekitar 5 atau 6 tahun, sehingga setiap lebaran saya merasa tak kerepotan. Tetapi  setelah dia menikah lebih kurang tiga tahun lalu, dia tak mungkin lagi bisa datang ke rumah saya untuk membantu saat lebaran. Namun dia masih sering singgah ke rumah jika ada urusan di Luwuk baik urusan dinas maupun urusan pribadi.

Demikian pembaca, InsyaAllah akan saya sambung cerita ati berikutnya.

Cerita Singkat Para Ati di Rumah, Part 1

Lebih dari dua bulan saya seperti bertapa dari dunia “perblogan”. Saya bukan hanya jarang  membuka blog, tetapi juga jarang  membuka WhatssApp dan FaceBook dua medsos yang saya miliki. Rasa malas ngeblog  mendera tak bisa ditahan lagi.  Beberapa bulan sebelumnya memang rasa malas itu telah mulai menyerang, hingga hanya sesekali dapat memposting tulisan pada bulan-bulan akhir tahun 2017.

Dan puncaknya setelah memposting Trend Tanaman Hias Bayam-bayaman pada  awal Januari 2018, saya tak lagi memposting tulisan bahkan  sempat tak membuka blog sama sekali.  Sampai suatu hari di  awal Maret saya tak sengaja sedang browsing di google, dan terbukalah WordPress serta tampaklah notifikasi blog saya. Setelah saya buka lumayan ada beberapa notifikasi dan ternyata trafik pada hari tertentu masih menembus angka mendekati 500, angka yang juga beberapa kali saya capai di saat saya lumayan aktif ngeblog. Alhamdulillah.

Saya jadi berpikir mungkin lebih baik saya berusaha ngeblog lagi, tapi toh rasa malas masih mengalahkan pikiran hingga beberapa hari saya hanya sesekali Blog Walking, dan baru pagi hari  ini selepas sholat shubuh hati ini tergerak untuk mulai menulis dan berniat untuk segera mempostingnya. Meskipun saya tidak tahu setelah menulis ini mungkin saja rasa malas akan menyerang lagi, saya pasrah saja, gak mau memaksakan diri.

Judul di atas mungkin agak menimbulkan tanda tanya bagi pembaca, apa maksudnya Ati (dibaca; Atik) pada judul itu,  apalagi ada kata Para di depannya, yang menunjukkan ada beberapa Ati. Yang jelas Ati di sini bukan hati sapi atau hati ayam yang sangat bergizi dan enak dimakan, dan juga bukan berarti perasaan seperti orang jawa mengatakan “atiku” maksudnya perasaanku. Lantas apa dong maksudnya?

Baiklah … begini ya para pembaca ….

Salah seorang teman kerja sayalah yang membuat istilah itu, ATI adalah singkatan Anak Tinggal. Di daerahku orang yang tidak ada hubungan keluarga dengan kita dan tinggal di rumah kita disebut sebagi anak tinggal. Pada awalnya dulu anak tinggal ini kebanyakan anak sekolah yang berasal dari daerah kecamatan-kecamatan di wilayah Kab. Banggai terutama dari kepulauan disekitar Luwuk sebagai ibu kota kab, Banggai. Mereka sekolah di kota Luwuk, dengan cara menumpang tinggal di rumah-rumah penduduk dengan tidak membayar kos  bahkan memperoleh makan dan kadang juga uang jajan dari induk semangnya (majikannya), tapi dengan catatan mereka membantu pekerjaan rumah sang induk semang di luar jam sekolah.

Jadi hubungan antara anak tinggal dan induk semang ini merupakan simbiosis mutualisme, karena sang induk semang dibantu membereskan pekerjaan rumah tanpa harus menggaji seperti pembantu dan para ati mendapat tempat tinggal dan makan gratis sambil bisa tetap bersekolah tanpa membayar uang kos.

Tapi dalam perkembangannya istilah anak tinggal juga diberlakukan untuk seseorang yang tinggal sebagai pembantu, karena istilah anak tinggal dirasa lebih halus dibanding kata pembantu. Perbedanya kalau pembantu  tidak sekolah dan sudah tentu digaji bulanan oleh sang majikan atau induk semang.

Sebagai perantau di daerah ini dan sebagai ibu rumah tangga yang bekerja di luar rumah, sejak awal-awal tinggal di Luwuk, saya tak pernah lepas membutuhkan jasa para Ati. Selama hampir 28 tahun saya tinggal di sini sudah banyak orang yang pernah jadi ati saya. Jumlah yang pasti saya lupa, tetapi yang saya ingat namanya ada sekitar 12 orang.

Pada kesempatan kali ini,  di mana sedang tak ada  ati di rumah, entah mengapa  timbul ide di pikiran saya untuk menceritakan tentang mereka. Saya pikir saya harus mengingat  jasa mereka pada saya, dan jasa  mereka sangat  terasa di saat saya sendirian di rumah seperti sekarang ini. Selain itu kisah mereka perlu saya tulis, siapa tahu suatu saat saya sudah melupakan mereka, maka akan teringat lagi jika membaca tulisan ini.

Karena ada sekitar 12 orang ati yang saya ingat namanya,  maka akan saya tuliskan tentang mereka secara bersambung. Adapun nama-nama para ati ada yang asli saya tuliskan namanya, ada pula yang saya samarkan, tetapi tempat asalnya saya tuliskan asli semuanya. Baiklah begini cerita singkat mereka:

  1. Sri Wahyuni

Sri adalah ati yang pertama tinggal  di rumah saya. Dia seorang gadis yang manis dengan postur yang lumayan tinggi langsing. Anaknya relatif pendiam. Dia berasal dari daerah transmigrasi di kecamatan Toili. Orangtuanya asli dari Jawa Timur tetapi mengikuti program transmigrasi di wilayah Kab.Banggai beberapa tahun silam.  Sri tinggal dengan saya saat mau masuk sekolah Madrasah Aliyah. Saat itu saya masih tahun pertama tinggal di daerah ini dan belum memiliki anak. Seingatku dia tinggal di rumah sekitar setahun, setelah itu dia pamit pulang tetapi kemudian tidak kembali. Tapi kemudian saya dengar dia tetap melanjutkan hingga lulus MAN  dan pindah tempat tinggal entah di mana. Saya terakhir mendengar kabar dia telah menikah dan memiliki usaha berupa toko bersama suaminya.

  1. Mariati

Mariati adalah pengganti dari Sri yang  juga berasal dari Toili tetapi berbeda Unit dengan Sri. Mariati anaknya manis, agak putih kulitnya, tetapi agak pendek. Anaknya lumayan cerewet dan luwes bergaul. Orang tuanya juga berasal dari jawa Timur.  Mariati tidak melanjutkan sekolah, sehingaa ikut kami sebagai anak tinggal yang digaji. Kalau tidak salah dia hanya lulusan SD. Orang tuanya tidak mampu menyekolahkan sehingga dia mencari kerja ke kota. Dia tinggal di rumah tidak lama, hanya sekitar 6 bulan. Beberapa hari sebelum dia pamitan, saya kehilangan dompet dan cincin kawin yang saya simpan di laci meja kamar saya. Namun karena tidak ada bukti sayapun tak bisa menuduh siapa yang mengambilnya. Tetapi saat dia tiba-tiba pamitan hanya selang beberapa hari dari kasus kehilangan itu, saya jadi membatin, mungkin dia lah yang mengambilnya. Tetapi sekali lagi saya tak dapat membuktikan sehingga saya hanya diam saja.

Beberapa tahun setelah dia pamit pulang dia pernah mengunjungi saya dan memeluk kaki saya sambil minta maaf. Saya jadi berfikir mungkin betul dia yang mengambil cincin dan dompet saya, tetapi saya mau memperjelas kepada diapun tidak sampai hati. Karena dia telah minta maaf sambil memeluk kaki, saya pikir tak perlu diperpanjang supaya dia tidak bertambah malu.

Akhirnya hubungan kami menjadi baik. Saat suami saya masih ada, bila  berkunjung ke Toili pasti kami singgah di rumah nya. Terakhir kami singgah dia sudah menikah dan bekerja sebagai pedagang ayam. Saat suami saya meninggal dia juga datang ke rumah untuk mengungkapkan duka cita, meskipun terlambat, karena dia juga terlambat mendengar kabarnya. Sejak itu kami tak pernah bertemu lagi.

  1. Reniwati

Reniwati adalah pengganti dari Mariati, dan Mariatilah yang mencarikan Reni untuk dapat bekerja di rumah. Reni memiliki wajah yang biasa-biasa saja, dengan postur tubuh sedang. Anaknya sangat pendiam, tetapi gampang senyum.  Sama dengan Mariati, Reni juga tidak sekolah, sehingga kami gaji bulanan seperti Mariati. Reni juga berasal dari Toili satu unit dengan Sri, dan mereka saling kenal. Bedanya  Sri  berasal dari keluarga yang lumayan mampu, sehingga dapat menyekolahkan Sri sampai SLTA, tetapi Reni berasal dari keluarga yang kurang mampu seperti Mariati, sehingga setelah tamat SD dia bekerja menjadi anak tinggal.

Saat tinggal bersama kami, itulah pertama kalinya dia bekerja meninggalkan orang tuanya. Dia masih sangat lugu dan banyak hal yang belum diketahui. Saya ingat saat itu menyalakan kompor minyak tanah saja dia belum tahu. Tetapi dia sangat rajin dan pintar menyesuaikan diri. Saat itu saya punya anak bayi, yakni putri sulungku.Tugas utama dia adalah menjaga anak saya saat saya mengajar. Tetapi saat menjelang 3 tahun usia putriku dia pamit pulang, dengan alasan orang tuanya menyuruhnya pulang untuk membantu bertani.

Sama seperti Mariati hubungan kami juga baik, meskipun dia tak lagi tinggal di rumah. Saat kami ke Toili kami pernah menyempatkan singgah di rumah orang tuanya, dan ternyata dia telah menikah, memiliki rumah sendiri dan memiliki dua anak saat terakhir kami singgah. Diapun juga datang saat mendengar suami saya meninggal. Sama dengan Mariati kami tak pernah lagi bertemu sejak saat itu. Hal ini karena saya tak pernah lagi berkunjung ke Toili setelah suami meninggal.

Pembaca, sekian dulu cerita tentang para ati dan akan saya lanjutkan di postingan berikutnya. InsyaAllah…..

Terimakasih telah membaca tulisan yang remeh ini.

Trend Tanaman Hias Bayam-Bayaman

mayana-all
sumber gambar: muslimahupdate.wordpress.com

Apakah anda pernah atau bahkan sering melihat tanaman seperti pada gambar diatas? Saya yakin sebagian besar dari anda mengenal tanaman tersebut. Karena memang tanaman ini mudah ditemukan di mana-mana.

Tanaman ini mengingatkan kita pada salah satu tamanan sayuran yang sangat  disukai masyarakat yakni bayam. Sehingga tidak salah jika kita menyebut sebagai tanaman bayam-bayaman.

Beberapa bulan terakhir ini di daerahku sedang nge-trend dikalangan ibu rumah tangga yakni menanam tanaman hias. Selain tanaman Ayu Tinting, tanaman Puring, dan tanaman Aglaonema, tak kalah ngetrennya adalah tanaman bayam-bayaman.

Saat tanaman ini mulai ngetrend`sekitar empat bulan lalu, saya heran karena tanaman ini beberapa tahun yang lalu sama sekali tidak dilirik sebagai tanaman hias. Hanya saja ada salah satu jenis tanaman bayam-bayaman yang berwarna merah, sejak awak-awal saya tinggal di daerah ini saya mengetahui masyarakat sering menggunakannya sebagai obat batuk. Dan masyarakat di daerah saya  menyebut tanaman yang mirip bayam merah ini sebagai MAYANA.

Tak disangka berpuluh tahun kemudian tanaman bayam-bayaman menjadi trend untuk ditanam sebagai tanaman hias. Para ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak tertarik dengan tanamn hiaspun ikut-ikutan trend menanamnya. (Didaerahku memang masyarakatnya paling suka mengikuti trend).

Setelah saya amati sekarang jenis tanaman bayam-bayaman memang semakin bervariasi dengan warna-warna yang begitu menarik, (mungkin telah melalui perkawinan silang), maka sayapun ikut-ikut menyukai dan menanamnya pula. Sebenarnya saya tidak sengaja menyukainya, melainkan karena si sulung  sempat menanamnya beberapa jenis lantaran ditawari tetangga di belakang rumah.

Setelah sulung pindah ke Jawa mengikuti suaminya, maka mau tidak mau saya lah yang merawat tanaman tersebut dan lama-lama saya menyukainya juga. Hingga saya tertarik googling untuk mengetahui lebih lanjut tentang tanaman ini, terutama nama Indonesia dan nama latinnya. Setelah googling saya baru mengetahui kalau tanaman ini namanya mirip dengan nama di daerah saya, yakni MIANA. Dan ternyata pula banyak sekali manfaat daun miana, selain sebagai obat batuk seperti yang sudah umum digunakan oleh masyarakat di daerah saya, miana juga dapat dimanfaatkan untuk mengobati wasir, bisul, diabetes, panas, mata merah dan sebagainya. Untuk lebih lengkap informasi tentang manfaatnya anda dapat membacanya di  Manfaat Daun Miana

Miana memiliki nama latin Coleus hybrid, dan memiliki nama daerah bermacam-macam. Jika di daerahku disebut sebagai Mayana, menurut sebuah sumber, tanaman yang mirip bayam ini juga memiliki nama lokal di dearah lain seperti si gresing (batak), adang-adang (Palembang),miana, plado (sumbar), jawer kotok (sunda), iler, kentangan (jawa), ati-ati, saru-saru(bugis), dan majana (Madura).

Adapun Klasifikasi Miana yang saya kutip dari ilmubiologi.com, sebagai berikut:

Divisi                       : Spermatophyta

Subdivisio               : Angiospermae

Class                       : Dicotyledoneae

Ordo                       : Solanales

Familia                   : Labiatae

Genus                     : Coleus

Spesies                   : Coleus hybridus

Miana yang merupakan tanaman terna (tidak berkayu) memang satu familia dengan tanaman bayam yakni Labiatae. Seperti halnya bayam, miana memiliki daun tunggal yang berbentuk seperti jantung, tetapi  bagian tepinya  bergerigi/bergelombang kecil, bergerigi besar, keriting, ada pula yang seperti kol.

Beberapa sumber mengatakan tanaman ini lebih sering dimanfaatkan masyarakat sebagai tanaman pembatas(border) atau sebagai tanaman hamparan. Tetapi karena miana memiliki variasi warna daun yang begitu memikat, maka para ibu rumah tangga kini memanfaatkan sebagai tanaman hias dengan menanamnya di dalam pot maupun lansung di tanah.

Warna-warni daun miana akan semakin tajam jika kita meletakkan di tempat yang langsung terkena paparan matahari. Tentu saja sebagai tanaman yang berdaun lebar dan tipis tanaman ini banyak mengalami penguapan sehingga mudah layu, maka sebaiknya kita menyiramnya setiap hari satu atau dua kali penyiraman.

Miana mudah sekali ditanam, cukup dengan cara distek dengan memetik bagian ujung tanaman yang masih muda dan menancapkan ditanah yang gembur. Sehingga jika ingin menanam tanaman ini tidak harus dengan membeli, melainkan bisa meminta kepada teman atau tetangga, seperti yang saya lakukan. Berikut beberapa variasi warna daun tanaman Miana yang sempat saya tanam dan rawat di rumah.

  1. Tepi berwarna hijau ke arah tengah semburat merah hati dan tengahnya berwarna pink

20180108_144859[1]

  1. Warna dasar hijau tetapi semakin dewasa berbercak warna marun bagian tengah yang dominan

20180108_144923[1]

  1. Warna coklat agak marun merata seluruh permukaan daun

20180108_144942[1]

  1. Pinggir hijau dan tengahnya berwarna coklat tetapi daunnya agak menguncup

20180108_144959[1]

  1. Warna daun merah hati dengan tepi bergerigi besar dan daunnya agak menguncup

20180108_145033[1]

  1. Dominan merah hati tetapi di tengahnya berwarna pink

20180108_145133[1]

 

  1. Bercak-bercak antara warna hijau coklat dan kuning dengan tepi daun bercangap seperti daun sukun

20180108_145302[1]

  1. Warna daun dominan hijau tetapi ada motif marun yang tidak teratur, dan daunnya melekuk-lekuk tidak rata.

20180108_145359[1]

Demikian pembaca, semoga bermanfaat, dan saya berharap trend bagus dan banyak nilai positifnya ini akan berlangsung lama, lebih lama dari trend batu akik (he he he).

Apakah tanaman ini juga sedang ngetrend di daerah anda? Mohon dibagikan ya. Terimakasih ….

 

Referensi:

http://Warung-tanaman.com

http://jitunews.com/read/16083/berkenalan-dengan-miana-tanaman-cantik-mirip-bayam

http://ilmubiologi.com/klasifikasi-miana

Lunturnya Kepedulian di Kalangan Perempuan (Ibu-Ibu)

20171228_172611[1]

Apa yang anda perhatikan dari gambar di atas? Mungkin anda berfikir itu gambar yang tidak jelas karena hanya menampakkan bagian belakang kursi yang diduduki oleh dua orang perempuan dengan jarak satu kursi kosong. Tetapi jika anda perhatikan bahwa pada  kursi kosong tersebut terdapat sebuah tas berwarna hitam, dan tas tersebut adalah milik salah seorang perempuan disampingnya (saya dapat memastikan karena saya duduk di belakangnya). Lantas apa yang salah dengan keadaan itu?

Tulisan ini tidak membahas masalah benar atau salah, tetapi masalah kepedulian terhadap sesama. Fenomena tersebut di atas selalu saya temui di setiap acara yang saya ikuti, entah itu acara undangan perkawinan (pesta kawin), sunatan, aqikah,  takjiyah, atau peringatan hari-hari besar, seperti yang kemarin saya ikuti yakni peringatan Hari Ibu di daerah saya. Dan baru kemarinlah terbetik di hati saya untuk mengambil gambarnya dan menuliskannya.

Saya selalu menemukan ibu-ibu yang menyisakan kursi kosong di sampingnya pada suatu acara. Dengan maksud untuk menaruh tas miliknya, atau untuk menaruh dus kue, makanan, air mineral dan es buah jika yang dihadiri adalah sebuah acara pesta. Saat ada tamu lain yang baru datang dan berusaha mencari kursi yang kosong, kebanyakan dari mereka tidak perduli dan hanya diam saja, tidak mempersilahkan orang lain duduk di kursi yang masih kosong tersebut, kecuali yang baru datang adalah orang yang dikenalnya.

Karena ada tas di kursi,  seringkali tamu yang datang belakangan mengira kursi tersebut sudah ada orang yang mendudukinya. Kecuali penerima tamu atau tamu mau bertanya apakah kursi tersebut masih kosong, barulah ibu-ibu tersebut mengangkat tas miliknya. Itupun dengan ekspresi wajah tampak tidak senang.

Saya seringkali merasa gregetan dengan keadaan seperti itu, tapi tak mungkinlah saya menegur atau memberi tahu orang tersebut. Mereka kan sudah dewasa semua, bisa jadi saya malah kena pandangan sinis mereka.

Jika kita mau berfikir tentunya kursi pada sebuah acara disediakan oleh panitia sudah diperkirakan sejumlah undangan, sehingga tak ada alasan bagi kita menggunakan kursi lebih dari sebuah. Lain halnya jika tamu yang datang jauh lebih sedikit dari undangan, tentu tak mengapa kita menggunakan kursi lain yang masih kosong untuk meletakkan tas atau makanan, tetapi mestinya kita pastikan terlebih dulu  jika sudah tak ada lagi tamu yang datang.

Namun yang sering kali saya temui, tamu yang datang membludag dan masih berdatangan seringkali masih  ada orang yang berperilaku sedemikian, dan mereka yang berperilaku demikian adalah perempuan (ibu-ibu). Saya melihatnya memang hanya ibu-ibu karena sebagai perempuan pastinya saya selalu duduk di barisan ibu-ibu. Tetapi memang laki-laki (bapak-bapak) biasanya tidak membawa tas dan tidak ribet dalam melakukan akatifitasnya termasuk pada sebuah acara pesta.

Selain itu tak jarang saya temukan di kantor-kantor pelayanan umum, seperti bank, kantor pos, kantor samsat dan sebagainya, sebagian pengunjung juga meletakkan helmnya dikursi yang terletak di sampingnya dan tak perduli orang lain mendapat tempat duduk atau tidak. Dan sekali lagi yang saya lihat juga seringnya perempuan (ibu-ibu maupun cewek).

Saya jadi berfikir, apakah sudah sedemikian lunturnya kepedulian kita terhadap orang yang tidak kita kenal dan hanya memikirkan kepentingan pribadi semata? Saya juga berfikir jika ibu-ibu kurang memiliki kepedulian sosial seperti itu, bagaimana mereka bisa mengajarkan/memberi contoh sikap itu kepada anak-anak mereka?

Hmmmm….. Saya hanya berharap realita ini tidak terjadi di daerah lain di Indonesia. Karena jika terjadi di seluruh Indonnesia, di mana lagi Indonesia yang kita akui sebagai negara berbudaya luhur itu?  Bagaimana dengan pembaca, apakah pembaca pernah atau sering pula menjumpai hal demikian? Tolong dibagikan di sini ya…

Terimakasih ….

Tamu di Pagi Hari

Pagi ini lebih kurang jam 06.00 saya masih sandaran di tempat tidur, karena perut mules yang sejak tadi malam saya rasakan. Tak biasanya orang bertamu di waktu masih begitu pagi, tapi tiba-tiba ada suara seorang perempuan memberi salam “Assalamualaikum ….”, Saya berfikir mungkin tetangga sebelah untuk mengantarkan kue (Uff..ngarep). “ Waalaikum salam ….tunggu …. (sambil meraih kerudung dan mengenakannya)

Kemudian saya keluar dan menuju pintu yang memang sudah saya buka kira-kira setengah jam sebelumnya. Di  depan pintu telah berdiri seorang wanita muda kira-kira berumur 25 tahun dengan penampilan relatif kusut dan menenteng sebuah tas kresek hitam. Selanjutnya terjadi percakapan seperti saya tulis di bawah ini:

Penulis        : Ya bu …ada perlu apa ya?

Tamu           : Ini saya mau menjual baju untuk membeli susu anak saya (sambil mengangkat tas kreseknya)

Penulis        : Wah … saya tidak ingin membeli baju sekarang bu, karena belum perlu. Seandainya perlu belum tentu cocok juga (sambil melihat ke isi tas, sepertinya baju bekas)

Tamu            : Iya, saya mau membeli susu untuk anak saya, makanya saya mau jual ini baju.

Penulis         : Begini saja ya, ibu bisa saya minta tolong mencabutkan rumput, nanti saya bayar tenaga ibu, supaya bisa beli susu.

Tamu            : Di mana?

Penulis        : Di bagian belakang rumah saya ini, (belakang rumah saya cuma sempit)

Tamu          : diam saja (seperti tidak mau/tidak setuju)

Penulis      : Ibu tinggal di mana?

Tamu         : di sana (sambil menunjuk ke arah kampung yang lumayan dekat dengan rumah saya), saya baru-baru kos di sana.

Penulis    : Oh … (pantesan saya belum pernah melihat sebelumnya). Anak ibu sekarang siapa yang menjaga?

Tamu         : Saya titip teman sebentar sementara tidur tadi, saya mau carikan uang untuk beli susu, baru  sebulan lebih umurnya.

Penulis      : Oh … ya sudah bu,  saya berikan saja sejumlah uang supaya bisa membantu ibu membeli susu. (karena berfikir tak mungkin lagi menawarinya mencabut rumput, karena anaknya masih bayi sekali dan hanya dititip teman di kos-an)

Penulis         : Ini bu sekedar bantuan dari saya (sambil menyodorkan kepada tamu sejumlah uang yang bisa digunakan untuk membeli susu, setelah sebelumnya mengambil ke kamar)

Tamu            : (diam saja menerima uang dengan wajah datar tanpa ekspresi dan tidak mengucapkan terimakasih atau apapun)

Penulis         : Bu, maafkan saya ya saya tidak bisa membeli pakaian ibu

Tamu             : Ya gak papa,

Penulis          : Ibu coba saja tawarkan di rumah-rumah lain, siapa tahu ada yang membeli

Tamu              : ya (terus pergi tanpa pamit tanpa salam)

Penulis            : ………? (bengong)

Kemudian, si ibu muda itu keluar pagar dan berjalan tanpa menoleh lagi. Saya bingung, dan berbagai perasaan berkecamuk di hati saya. Ada perasan kasihan  karena masih ada seorang ibu yang mau membelikan susu anaknya mesti menjual baju bekasnya. Ada pula perasaan jengkel karena sepertinya dia tidak punya sopan santun, sudah dibantu tidak berterimakasih malah saya yang minta maaf, eh pergi begitu saja tanpa pamitan. Ada pula perasaan menyesal mengapa saya tidak mencoba mengorek tentang jati dirinya supaya dapat membantunya menghubungkan dengan RT, RW, Kelurahan, dinas Sosial dan sebagainya. (mungkin karena saya sedang nahan sakit perut sehingga tak sempat banyak berfikir, heleh… alasan)

Tapi sempat juga muncul pikiran negatif saya, jangan-jangan sebenarnya dia tidak memiliki bayi yang perlu susu, hanya karena malas bekerja dia mencoba mencari uang dengan cara seperti seperti itu. Ah … entahlah, akhirnya shu’udzon saya bisa menghapuskan amal saya. Astaghfirllah..Hal Adziim…

Bagaimana dengan pembaca, jika mendapati kejadian seperti yang saya hadapi hari ini? Apa yang akan pembaca lakukan?

 

6 Impian Saya Saat Pensiun Nanti

impianku.sch.id
sumber gambar: impianku.sch.id

Setiap orang berhak memiliki impian dalam hidupnya, baik impian jangka pendek maupun jangka panjang. Pada umumnya kita memiliki impian saat masih anak-anak dan remaja, atau saat masih menuntut ilmu di bangku sekolah. Impian-impian itu biasanya disebut sebagi cita-cita. Tetapi sesungguhnya impian-impian  selalu ada dalam setiap tahapan kehidupan yang dilalui manusia, termasuk setelah masa dewasa bahkan menjelang masa purna tugas atau pensiun.

Jika saya diberi umur panjang, InsyaAllah tak sampai 10 tahun lagi saya akan memasuki masa pensiun dari pekerjaan sebagai guru PNS. Sejak beberapa tahun ini saya sering mengkhayalkan atau memimpikan hal-hal yang ingin saya lakukan jika telah memasuki masa pensiun nanti.

Tentu saja hayalan/ impian saya yang utama adalah saya masih relatif sehat saat menjalani pensiun tersebut, minimal masih bisa menjalani aktivitas keseharian tanpa perlu bantuan orag lain. Jika kondisinya seperti yang saya harapkan, maka ada 6 hal yang saya impikan atau ingin lakukan, yaitu:

  1. Saya berharap ketiga anak saya telah mandiri hidupnya dan sudah berkeluarga (setidaknya yang no 2 juga sudah menikah dan telah mandiri). Dan jika keadaannya telah seperti itu, secara berkala saya ingin berkeliling mengunjungi mereka dengan membawa oleh-oleh kesukaan mereka dan anak-anak mereka kelak. Di rumah mereka tak perlu berlama-lama karena biasanya tak banyak yang bisa dilakukan orang tua di rumah anaknya, mungkin 3 s/d 5 hari saja. Impian seperti ini, saya yakin hampir semua orang tua memilikinya.
  2. Saya ingin memiliki perpustakaan kecil di rumah dan akan saya gratiskan bagi anak-anak di sekitar rumah saya jika ingin membaca atau meminjam buku. Atau jika ini tidak terwujud saya ingin menjadi relawan penjaga perpustakaan. Hal ini terinspirasi tulisan Bang Ical yang berjudul Perpustakaan Impian
  3. Saya ingin menjadi relawan pengajar di daerah terpencil yang masih kekurangan guru, atau relawan panti asuhan yatim piatu, atau relawan dapur umum jika ada bencana alam. Tetapi  ketiganya tidak terikat waktu, karena jika sewaktu-waktu  kangen anak cucu bisa saya tinggal sementara untuk mengunjungi mereka dulu.
  4. Jika ada rejki, saya ingin pergi umrah dan juga mengunjungi tempat-tempat wisata di Indonesia yang belum pernah saya kunjungi, serta ingin berkunjung ke negara Korea (jika mungkin negara lain juga). Mengapa korea? Karena saya dulu sempat “gila” dengan drama korea sehingga terbawa mengagumi alam serta budayanya, selain mengagumi aktor/aktrisnya. Meskipun sekarang tak lagi gila dengan drakor tapi keinginan untuk ke Korea masih menggebu.
  5. Saya ingin tetap menulis di Blog terutama wordpress (saya jadi berkhayal kira-kira pengikut blog saya ini, saat itu sudah berapa ya, serta trafiknya perhari berapa ya? he he he). Mengapa masih ingin ngeblog? Tujuan utama saya agar semakin banyak peninggalan abadi yang ingin saya wariskan kepada anak cucu. Saya ingin mereka mengenang ibu dan neneknya melalui tulisan-tulisan di blog, meskipun hanya tulisan-tulisan sederhana seperti tulisan ini.
  6. Saya ingin sekali dapat menerbitkan buku, entah buku apa yang penting dapat menerbitkannya. Sebenarnya impian ini sudah lama, tetapi sampai saat ini belum terwujud. Jika sampai pensiun saya belum juga membuat buku, maka setelah pensiun nanti saya ingin sekali dapat mewujudkannya. Karena menurut saya buku adalah warisan terhebat bagi generasi di bawah saya.

Itulah 6 keinginan saya, dan akankah terwujud impian-impian saya itu? Tentu saja jawabannya “belum tahu”, karena usia saya sampai pensiun atau tidak pun belum tahu. Lagi pula, seandainya saya menemukan jodoh lagi tentu impian-impian itu ada yang bisa atau harus berubah, karena akan menyesuaikan dengan pasangan nantinya.

Impian-impian ini sengaja saya torehkan di sini, karena saya ingin melihatnya kembali jika masa itu telah tiba, dan akan mengetahui apakah impian ini berubah atau tidak, serta  terwujud atau tidak, tentu saja jika umur masih ada dan tetap sehat. Semoga Allah berikan kesehatan dan  umur panjang untukku. Aamiin….YRA

Bagaimana dengan impian pembaca, adakah yang sama? meskipun mungkin impian itu bukan impian setelah pensiun ….