Misteri 3 Buah Apel

Hari itu Sabtu pagi seperti biasa saya menunggu  jadual masuk kelas jam ke 3,4, dan 5 sambil membuka-buka Power Point yang akan saya tayangkan di kelas, kadang perlu penambahan atau revisi sedikit. Bu Mia salah seorang rekan kerja di sekolah mendekatiku dan langsung bertanya “ Bu, kemarin ibu membawakan saya apel dan menaruhnya di tas saya?”. Sayapun langsung menjawab “ tidak bu” karena memang saya tidak melakukannya.

Kemudian bu Mia bercerita bahwa sehari sebelumnya, di dalam tas kerja yang ia bawa ke sekolah hari itu terdapat  3 buah apel, yang ia temukan setelah sampai di rumah. Ia heran karena  tak  ada seseorang yang memberitahukan tentang asal muasal buah tersebut.

Lebih jauh ia bercerita bahwa   hari Jumat tersebut ia menjadi sangat linglung dan tak ingat  kegiatan apapun yang dilakukan baik saat di sekolah maupun sesampainya di rumah. Bahkan sesampainya di rumah, suami dan anak-anaknya kebingungan karena beliau berbicara tidak terkontrol. Sambil berusaha menyadarkan, suaminya menempelkan koyo di leher bu Mia bagian belakang. Setelah sadar dia bertanya “Siapa yang nempelkan koyo di leherku ini? Kenapa?”. Kemudian dijawab oleh anaknya “mamak tadi sepulang dari sekolah bicara tidak karu-karuan, sampai kami bingung”.

Ia kemudian menghubungkan  keadaannya yang linglung dengan keberadaan apel dalam tasnya, maka timbul dugaan yang tidak-tidak dalam dirinya sehingga ia memutuskan untuk membuang apel-apel itu.

Setelah sampai di sekolah keesokan harinya (hari Sabtu)  semua teman yang ia temui ditanyai satu persatu, dengan pertanyaan yang sama seperti yang dilontarkan pada saya  dan jawabannya sama  tak ada yang merasa menaruh apel di tas bu Mia.

Flashback ke hari Jum’at sehari sebelumnya. Hari itu di adakan pemilihan ketua dan wakil ketua osis di sekolah kami. Sebelumnya sudah dipilih lima pasang calon ketua dan wakil ketua osis oleh panitia. Dan hari itu sebelum diadakan pemungutan suara secara langsung oleh seluruh siswa, didahului dengan  pemaparan visi-misi para calon kemudian di tanggapi oleh para panelis dengan memberikan beberapa pertanyaan terkait visi misinya. Panelis berjumlah 4 orang dan bu Mia adalah salah satunya.

Pemaparan visi-misi dilakukan di lapangan upacara. Saya ikut menyaksikan pemaparan para calon ketua osis. Tetapi saat bu Mia mulai memberikan pertanyaan kepada para calon, saya meninggalkan lapangan untuk mempersiapkan soal ulangan susulan, karena hari itu saya menjanjikan siswa yang belum ulangan untuk mengikuti susulan  seusai pemilihan ketua osis. Setelah selesai pemungutan dan tinggal penghitungan suara saya memulai ulangan susulan di ruang laboratorium dan tak lagi memperhatikan perkembangan pemilihan ketua osis.

Selesai ulangan susulan  saya kembali ke ruang dewan guru dan ternyata di ruang dewan guru tinggal saya dapati bu Mia seorang, sedangkan rekan guru yang lain telah pulang. Saat itu jam telah menunjukkan pukul 11.00 Wita,  maka wajar jika para guru telah pulang karena hari Jumat dan hari itu tidak ada proses KBM. Seusai membereskan tas, saya pamit untuk pulang duluan kepada bu Mia, dan bu Mia hanya mengiyakan. Saat itu saya tidak tahu dan tidak sempat memperhatikan bahwa  ternyata ia tengah linglung. Seandainya tahu pastilah saya tidak meninggalkannya sendirian.

Saya mengetahui bahwa hari itu ia linglung  dari  cerita bu Mia sendiri. Bahkan sebelum saya datang  hari Sabtu  itu, ia bertanya kepada Pak Iwan, salah seorang teman “Kemarin itu katanya pemilihan ketua osis, jadi apa tidak?”. Tentu saja pak Iwan heran karena bu Mia termasuk panelis pada proses itu, bagaimana mungkin masih bertanya seperti itu.

Tetapi menurut pak Iwan hari Jumat itu memang sempat heran, karena bu Mia memberikan pertanyaan kepada para calon ketua osis dengan kalimat yang terputar-putar. Hanya saja Pak Iwan  tidak menduga bahwa bu Mia sedang linglung.  Selanjutnya Bu Mia mengaku kepada pak Iwan seperti yang diceritakan pada saya, bahwa ia tidak ingat apapun yang dilakukan pada hari Jumat itu, termasuk saat saya pamiti, dan bahkan tidak ingat jika pulang naik ojek karena suami dan anaknya berhalangan menjemput. Hanya anaknya yang di rumah yang mengetahui ibunya pulang naik ojek, lantaran turunnya persis di depan rumah.

Kejadian linglung seperti itu baru sekali dialami oleh bu Mia selama hidupnya. Selanjutnya hal itu dikaitkan dengan  keberadaan apel di dalam tas bu Mia, maka timbul berbagai dugaan dari teman-teman, antara lain:

  1. Kemungkinan bu Mia singgah membeli apel, karena tengah linglung jadi dia lupa. Tetapi anggapan ini juga dipatahkan oleh teman yang lain, jika bu Mia membeli apel tentunya apelnya dibungkus kantung plastik oleh sang penjual dan menurut bu Mia 3 buah apel di dalam tas dalam keadaan telanjang tanpa pembungkus sama sekali. Selain itu bu Mia bilang ia tidak suka apel dan jarang membelinya.
  2. Kemungkinan seorang teman baru pulang dari Palu, yakni bu Indah yang memberikan oleh-oleh apel pada bu Mia dengan diam-diam memasukkan ke dalam tas pada hari kamis sebelumnya dan bu Mia tidak melihatnya sampai dibawa lagi ke sekolah hari Jumat. Tetapi dugaan inipun terpatahkan karena setelah dikonfirmasi kepada bu indah, ia juga tidak melakukannya.
  3. Kemungkinan bu Mia mengalami alzeimer, tetapi tentu saja bu Mia menolak karena sebelumnya belum pernah mengalami hal itu, dan jika mulai alzeimer apakah semendadak itu langsung dalam keadaannya sangat drastis. Lagipula jika benar alzeimer, bagaimana dengan misteri buah apelnya.
  4. Kemungkinan bu Mia sedang banyak pikiran atau punya masalah serius sehingga mengganggu konsentrasinya, tetapi setelah ditanya ia merasa tidak mengalami hal itu.
  5. Pasti ada teman lain yang meletakkan yang belum sempat ditanyai karena belum ketemu. Tetapi setelah lebih dua minggu kejadian tersebut berlalu dan bu Mia telah menanyai semua teman satu persatu tak ada seorangpun yang mengaku, maka sampai saat ini 3 buah apel tersebut masih menjadi misteri.

Sehingga bu Mia berkeyakinan bahwa pada hari Jum’at pada saat proses pemilihan ketua osis tersebut ia telah “dikerjai” oleh seseorang melalui sarana apel sehingga hari itu ia menjadi linglung. Dan sekarang ia masih sering khawatir dan penasaran siapa orang yang tega “mengerjainya”.

Saya pun berfikir jika hal itu terjadi pada saya, tentu akan berfikir hal yang sama. Dan saya mungkin akan menduga salah seorang teman di sekolah yang mengerjainya, karena kejadian ini terjadi di sekolah dan apel tersebut berada di dalam tas kerja yang baru dibawa dari sekolah. Jika dugaan ini benar, tentunya saya sangat prihatin dan tak habis pikir, bagaimana mungkin di lembaga pendidikan yang komunitasnya tentu saja terdiri atas orang-orang terdidik, dapat  terjadi tindakan yang  tidak rasional seperti itu. Namun sebenarnya saya berharap dugaan ini tidak benar, karena jika benar akan menjadi semacam teror bukan hanya bagi bu Mia, tetapi juga saya dan  teman-teman yang lain. Dan jika tidak benar, berarti ada kemungkinan-kemungkinan yang lain? Bagaimana analisa pembaca tentang hal ini?

Yang jelas,  bagi bu Mia, saya, dan teman-teman kerja   tiga buah apel tersebut masih menjadi misteri sampai detik ini.

Catatan:

Cerita di atas merupakan kisah nyata, tetapi nama-nama yang tertera telah disamarkan.

 

 

Iklan

Pengalaman Lucu dan Konyol Saat Tahun Pertama di Luwuk

Apakah anda seorang perantau? Jika iya, apakah anda mengalami hal-hal yang unik atau lucu terkait dengan adat atau kebiasaan daerah yang baru anda datangi? Dan jika iya, berarti sama dengan saya.

Pengalaman saya ini sebenarnya sudah sangat lama terjadinya, yakni saat baru beberapa hari/bulan saya merantau di Kota Luwuk Ibu kota Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah. Setelah cukup lama melupakannya, entah mengapa saya teringat kembali kenangan itu dan ingin menorehkannya di sini. Baiklah begini ceritanya.

Saat itu saya tinggal di sebuah mess yang disediakan oleh perusahaan tempat suami bekerja. Di mess tersebut ada seorang  karyawan perempuan yang khusus bertugas memasak. Dia bernama Ketut (tentu saja keturunan Bali, tapi berasal dari daerah transmigrasi di Kab Banggai).

Suatu hari sebelum saya berangkat mengajar, saya berpesan kepada Ketut untuk memasak bakwan. Rupanya dia belum tahu apa itu bakwan, sehingga saya memberitahukan bahan dan bumbunya serta cara membuatnya. Alhamdulillah , sepulang kerja saat saya mau makan  sudah tersedia bakwan pesanan saya di meja makan, dan tanpa melihat dengan seksama saya langsung mengambil sebuah bakwan dan menggingit serta mengunyahnya.

Tetapi setelah kunyahan pertama apa yang saya rasakan, ternyata mulut saya sangat kepedasan padahal  saya tidak menggigit cabe rawit, karena memang tidak suka pedas. Spontan saya melihat sisa gigitan bakwan, dan tampaklah kulit cabe rawit  bercampur dengan kol, taoge, dan wortel. Rupanya Ketut mencampur bumbu bakwan dengan cabe rawit.

Seketika saya panggil ketut dan menanyakan mengapa membuat bakwan menggunaka cabe rawit, dan Ketut pun menjawab ” Kan, ibu tadi bilang bumbunya pakai rica?”. Ya Allah … rupanya saat saya mengatakan “merica” Ketut memahaminya sebagai “Rica”. Rica adalah sebutan cabe (lombok) untuk orang Luwuk. Adapun mereka menyebut merica sebagai “Rica Jawa”. Kala itu tentu saja saya belum tahu istilah rica dan rica jawa.

Beberapa bulan kemudian saya meminta Ketut membeli Gula Jawa di pasar. Setelah menunggu, akhirnya dia datang tetapi tidak membawa gula jawa.   Dan dia mengatakan tidak menemukan sama sekali  gula jawa di pasar. Padahal beberapa hari sebelumnya saya melihat di mana-mana ada gula Jawa. Maka saya tidak percaya kepada Ketut dan mengatakan “ Tidak masuk akal Ketut, beberapa hari yang lalu saya melihat sendiri banyak sekali gula jawa di pasar”. Dan Ketut pun juga balik menimpali ” Betul ibu, saya sampai keliling pasar, semua pedagang saya tanya tidak ada yang jual gula jawa”. Akhirnya saya hanya diam, meskipun dalam hati masih bertanya-tanya.

Maka setelah ada kesempatan pergi ke Pasar sendiri saya membeli gula jawa dan sesampainya di mess saya langsung menunjukkannya kepada Ketut “ Ketut ini gula jawa banyak sekali di pasar”. Setelah melihat Ketut tertawa sambil mengatakan ” Oh …yang ibu maksud gula merah?, kalau itu banyak memang ibu …., tapi di sini tak ada orang menyebut sebagai gula jawa”.

Di lain waktu saat saya belanja lagi di pasar, saya tertarik membeli ikan teri kering. Kalau di Luwuk orang menyebut ikan lure kering dan dijual perliter. Saya bertanya kepada pedagangnya berapa harga perliternya, dan pedagang itu menjawab dengan singkat “ dua setengah”. Saya langsung pergi dengan mengatakan “maaf belum jadi”. Karena saya pikir mahal banget harganya sampai Rp. 2.500. Saat itu harga ayam kampung saja masih berkisar Rp 3.500 s/d Rp.4000 per ekor. (sekarang sih ayam kampung sudah berkisar Rp.80.000 s/d 100.000/ekor). Setelah beberapa langkah saya berjalan saya menemukan lagi pedagang yang juga menjual ikan lure kering. Setelah saya tanya harganya, pedagang itu menjawab “tiga ratus” . Karena tidak percaya saya memperjelas dengan nada bertanya “ tiga ratus rupiah pak?”. Dan pedagang itu menjawab “iya bu”. Seketika saya baru sadar, berarti pedagang yang pertama tadi menjual Rp.250 bukan Rp. 2500. Akhirnya saya langsung membeli pada pedagang yang kedua, karena mau balik ke pedagang pertama yang ternyata lebih murah saya sudah malu. Dan setelah agak lama saya di Luwuk, saya menjadi paham bahwa  orang Luwuk memang  paling suka menyingkat kata. Dua ratus disingkat ”dua rak”, seribu disingkat “serik”, seratus disingkat “serak” dan dua ratus lima puluh disingkat “dua setengah” serta masih banyak singkatan yang lain.

Masih banyak hal lucu lain yang saya alami pada awal-awal menjadi penduduk Luwuk. Tetapi semua itu merupakan salah satu bukti bahwa Indonesia memang kaya akan keragaman suku, budaya, bahasa, adat istiadat dan lain sebagainya. Sehingga ada pepatah  mengatakan  “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Begitu peribahasa yang saya pelajari saat masih SD.

Terimakasih pembaca!

 

MENINGKATKAN PROFESIONALITAS GURU DENGAN MENGOPTIMALKAN PKB, Part 2

086
Sumber gambar: fatkhan.web.id

PKB yang terdiri atas 3 unsur, yakni:  pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif telah diuraikan pada Part 1. Dari berbagai cakupan PKB tersebut, hanya sebagian kecil yang biasa dilakukan oleh sebagian besar guru, yakni MGMP atau KKG bagian dari pengembangan diri. Namun demikian MGMP yang dilaksanakan seringkali belum secara signifikan meningkatkan kompetensi guru, karena pada kegiatan MGMP lebih sering hanya dijadikan wadah untuk membuat administrasi pembelajaran bersama-sama, dan kurang menyentuh konten materi terkait empat kompetensi yang harus dimiliki guru, yakni kompetetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial.

Adapun cakupan-cakupan PKB yang lain sangat jarang dilakukan oleh guru. Diklat fungsional amat jarang diselenggarakan baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, maupun pusat, apalagi diklat-diklat mengenai penulisan karya ilmiah maupun karya inovasi. Sesekali diadakan diklat di tingkat provinsi, namun guru yang dipanggil sebagai peserta dapat dihitung dengan jari dari setiap kabupatennya. Bahkan banyak guru yang sudah puluhan tahun mengajar tidak pernah dipanggil pelatihan, kecuali ada perubahan kurikulum, yang lebih difokuskan pada perubahan perangkat pembelajaran.

Meskipun demikian bukan berarti para guru hanya bisa menunggu panggilan diklat yang tak kunjung datang, sementara kebutuhan untuk meningkatkan profesionalitasnya tak bisa ditunda seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat. Pesatnya perkembangan iptek menuntut guru dapat beradaptasi dengan berbagai inovasi dan kreatifitas dalam mengajar dan mendidik siswa demi peningkatan hasil belajar peserta didik sesuai perkembangan teknologi.

Oleh karena itu ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru, sekolah, dan dinas terkait, dalam rangka peningkatan profesionalitas guru, khususnya berkaitan dengan PKB, yaitu:

1) Guru. Guru hendaknya menjadi Guru Pembelajar (GP). Program guru pembelajar dicanangkan oleh mendikbud Anies Baswedan (sekarang gubernur DKI Jakarta) sebagai tindak lanjut hasil UKG tahun 2015. Guru Pembelajar adalah guru ideal yang terus menerus belajar dan mengembangkan diri setiap saat dan di manapun, guru yag senantiasa terus belajar selama ia masih mengabdikan dirinya di dunia pendidikan, guru pembelajar juga harus selalu menginspirasi peserta didik (Anies Baswedan, 2015).

Program GP telah berjalan mulai tahun 2016, tetapi terkendala oleh pergantian menteri pendidikan dan kebudayaan serta pengetatan anggaran oleh pemerintah pusat, sehingga baru sebagian kecil guru yang berkesempatan mengikuti program ini. Namun demikian sesuai maknanya bahwa guru pembelajar adalah guru yang senantiasa belajar dan mengembangan diri selama masih mengabdikan dirinya di dunia pendidikan, maka selayaknya guru tetap belajar untuk mengembangkan keprofesiannya secara mandiri, antara lain dengan cara:

  •  menyisihkan sebagian tunjangan profesinya untuk membeli buku-buku baik buku pelajaran maupun buku-buku tentang pendidikan yang dapat meningkatkan kompetensinya
  • setelah guru membeli buku, maka guru juga harus meluangkan waktu untuk membaca buku-buku yang dibelinya
  •  guru juga harus meluangkan waktu untuk browsing di internet guna menemukan bahan ajar, media pembelajaran, model-model pembelajaran kreatif, inovasi pembelajaran dan sebagainya sebagai rujukan dalam proses pembelajaran maupun mengembangkan profesionalismenya melalui karya tulis
  • guru hendaknya selalu berdiskusi dengan teman sejawat terkait dengan kesulitan-kesulitan proses pembelajaran yang dilakukan, maupun pemgembangan profesinya sehingga menemukan sulusi
  • guru juga dapat mengikuti pelatihan-pelatihan guru kreatif secara On-line
  •  guru belajar dan berusaha melakukan penelitian tindakan kelas sebagai sarana refleksi dan evaluasi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan, dan
  • setelah melakukan penelitian guru dapat mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah, mengikuti lomba karya inovatif, lomba forum ilmiah, dan lomba kreatifitas guru yang setiap tahun diselenggarkan oleh dirjen GTK

2) Pihak sekolah. Sekolah memberikan motivasi dan dukungan terhadap guru untuk meningkatkan profesionalitasnya melalui:

  •  mengoptimalkan program MGMP/KKG yang lebih menyentuh peningkatan kompetensi guru, dengan mendatangkan nara sumber yang lebih berkompeten
  • mendorong dan memotivasi guru untuk dapat menghasilkan karya ilmiah, dengan mengalokasikan dana penelitian tindakan kelas, dan
  • kepala sekolah meningkatkan kepengawasan terhadap guru, baik kepengawasan dalam proses pembelajaran maupun dalam pengembangan keprofesiannya

3) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan /institusi terkait. Dinas.institusi terkait dapat melakukan, antara lain:

  • mengalokasikan anggaran untuk menyelenggarakan diklat fungsional, maupun diklat lainnya terkait PKB seperti diklat publikasi ilmiah dan karya inovatif,
  • meningkatkan kepengawasannya baik secara kuantitatif maupun kualitatif, dan
  • Lembaga Penjaminan Mutu Pemdidikan (LPMP) yang ada di setiap provinsi lebih meningkatkan lagi penyelenggaraan diklat-diklat fungsional maupun lomba-lomba terkait dengan karya ilmiah, serta mendorong dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten/kota agar dapat mengirimkan lebih banyak peserta pada lomba-lomaba tersebut yang didanai oleh dinas kab/kota di luar kuota dari LPMP

Kiranya dapat disimpulkan bahwa PKB merupakan amanat dari UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, selayaknya menjadi tanggung jawab pemangku kepentingan di bidang pendidikan, terutama guru, sekolah, dan dinas/institusi terkait. Dengan lebih mengoptimalkan pelaksanaan PKB diharapkan dapat meningkatkan profesionalitas guru, yang ditandai antara lain dengan meningkatnya nilai UKG di tahun-tahun mendatang, dan utamanya meningkatkan pola pembelajaran menjadi lebih kreatif dan inovatif, serta meningkatnya kinerja guru secara umum.

Guru yang profesional akan mengukir wajah wajah masa depan indonesia yang ada pada diri peserta didik menjadi wajah yang cerah mempesona karena penuh harapan, demi kemajuan bangsa sejajar dengan bangsa- bangsa lain di dunia. Aamiin…

Di balik layar :

(Tulisan ini sebenarnya saya buat untuk diikutkan dalam lomba penulisan essai tentang pendidikan bagi guru dalam rangka Festifal Sastra Banggai yang diadakan pada bulan April 2017 yang lalu. Tapi entah mengapa ternyata lomba tersebut tidak jadi diselenggarakan.  saya sendiri tidak paham apa itu tulisan Essay, jadi ya asal nulis saja kemudian saya emailkan, eh setelah itu tidak ada kabar berita dan setelah dikonfirmasi ternyata tidak jadi lombanya. Dan baru sekarang saya berpikir untuk saya posting di sini dalam dua kali postingan. Jika tak keberatan mohon masukan para pembaca utamanya anggota grup Obrolin yang mengerti tentang essai apakah ini sudah termasuk kategori tulisan essai atau belum dan mungkin ada masukan lainnya. Terimakasih)

Daftar Pustaka:
Baswedan Anies. 2016. Video Sambutan Mendikbud Pada program Guru Pembelajar.https// sim.gurupembelajar.id
Masaong, 2012. Supervisi pembelajaran dan Pengembangan Kapasitas guru. Bandung: Alfabetha
Permennegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009.
Pedoman Pengelolaan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), 2010. Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud
Rusman, 2011. Model-model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru). Jakarta : Rajawali Pers
Undang-Undang RI No. 14. Tahun 2015. Tengan Guru dan Dosen. Jakarta: Kemdikbud
Zulrahmat. 2016. Metanoia Profesionalisme Guru Pembelajar. http://www.simposium. gtk.kemdikbud.go.id/karya. Diunduh tanggal 20 november 2016

MENINGKATKAN PROFESIONALITAS GURU DENGAN MENGOPTIMALKAN PKB, part 1

086
sumber gambar : fatkhan.web.id

Sebagai salah satu unsur dalam pendidikan, peran guru sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Peran itu semakin kuat dengan pencanangan guru sebagai profesi oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 4 Desember 2004. Selanjutnya Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen pada pasal 7 secara eksplisit mengamanatkan bahwa guru memiliki kesempatan mengembangan keprofesionalan secara  berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat, sebagai aktualisasi dari sebuah profesi pendidik. Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) dilaksanakan bagi semua guru, baik yang sudah bersertifikat maupun belum bersertifikat. Sasarannya antara lain adalah meningkatnya kompetensi guru. Guru yang berkompeten tentunya  akan berdampak pada kualitas pembelajaran yang dilakukannya.

Berdasarkan Permennegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 yang dimaksud dengan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) adalah pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya.

Profesionalitas  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) on line adalah  berarti 1. perihal profesi; keprofesian; 2 kemampuan untuk bertindak secara profesional.  Selanjutnya Rusman (2011) menyatakan guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan, sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.

Namun sejauh ini profesionalitas guru masih banyak dipertanyakan. Hal ini kiranya terkait dengan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015 yang diperoleh rata-rata  secara nasional hanya 53,02. Angka ini masih dibawah rata-rata Kriteria Capaian Minimal (KCM) 55  yang dikeluarkan oleh kemdikbud (sergur.kemdiknas.go.id). (bahkan pada tahun 2017 ini dinaikkan menjadi 70 ). Khusus untuk Sulawesi Tengah lebih memprihatinkan lagi karena berada di peringkat 30 dari 34 provinsi di Indonesia dengan rata-rata 46,85.

Selain nilai UKG yang masih mengecewakan, realita di lapangan juga tampak oleh penulis bahwa masih banyak guru yang kurang menunjukkan diri sebagai guru profesional, misalnya: a) sering ditemukan guru kurang disiplin masuk kelas atau terlambat datang ke sekolah secara umum, b) masih banyak guru yang mengajar dengan menggunakan metode konvensional yang menempatkan guru sebagai pusat belajar (Teacher Center), c) masih sering ditemukan guru  memberikan contoh kurang baik kepada siswa, misalnya merokok di lingkungan sekolah bahkan di dalam kelas, dan d) Sebagian besar guru yang sudah tersertifikasi kurang menyisihkan tunjangan profesi yang diterimanya untuk mengembangkan profesinya. Hal ini sesuai pendapat Masaong (2012: 202) yang mengatakan bahwa banyak guru yang sudah memperoleh sertifikat sebagai guru profesional, tetapi belum tampak signifikan terjadi perubahan dalam pola pembelajaran, bahkan  tingkat kesadaran guru tersertifikasi untuk mengembangkan profesinya dalam  kegiatan-kegiatan ilmiah masih rendah.

Realita yang menunjukan profesionalitas guru yang masih jauh dari harapan tersebut mengindikasikan bahwa pelaksanankan PKB  belum optimal. Belum optimalnya pelaksanaan PKB, dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain: a) Guru belum memahami tentang  PKB dan cakupannya, b) Kurangnya kesadaran  sebagian besar guru tentang pentingnya PKB bagi profesinya, c) Kurang maksimalnya pengawasan dan dukungan dari sekolah maupun  dinas terkait, d)  Kurangnya waktu yang dimiliki oleh guru, karena guru lebih banyak menghabiskan waktu untuk membuat administrasi pembelajaran, dan e) Kurangnya diadakan diklat  fungsional, maupun diklat terkait publikasi ilmiah dan karya inovatif oleh pemerintah, baik di tingkat pusat maupun tingat provinsi, apalagi kabupaten/kota.

Terkait berbagai masalah tersebut, tulisan ini dimaksudkan untuk sedikit menguraikan apa itu PKB dan cakupannya, serta memberikan masukan  upaya apa saja yang dapat dilakukan oleh guru, kepala sekolah, maupun dinas terkait dalam mengoptimalkan PKB, sehingga profesionalitas guru meningkat.

PKB adalah pengembangan keprofesian berkelanjutan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan guru untuk mencapai standar kompetensi profesi dan/atau meningkatkan kompetensinya di atas standar kompetensi profesinya yang sekaligus berimplikasi kepada perolehan angka kredit untuk kenaikan pangkat/jabatan fungsional guru. PKB mencakup tiga hal, yakni pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif. (Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga kependidikan, 2010)

Berikut  diuraikan  secara ringkas ketiga cakupan PKB tersebut dari Pedoman Pengelolaan Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan (PKB) yang dikeluarkan oleh Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemdidbud sebagai berikut: (1) Pengembangan diri, meliputi : a) diklat fungsional, dan b) kerja kolektif guru. Kegiatan pengembangan diri  untuk mencapai dan/atau meningkatkan kompetensi profesi guru yang mencakup: kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Diklat fungsional adalah kegiatan guru dalam mengikuti pendidikan atau latihan yang bertujuan untuk mencapai standar kompetensi profesi yang ditetapkan dan/atau meningkatkan keprofesian untuk memiliki kompetensi di atas standar kompetensi profesi dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan kegiatan kolektif guru adalah kegiatan guru dalam mengikuti kegiatan pertemuan ilmiah atau kegiatan bersama yang bertujuan untuk mencapai standar atau di atas standar kompetensi profesi yang telah ditetapkan. Kegiatan kolektif guru mencakup: (a) kegiatan lokakarya atau kegiatan kelompok guru seperti KKG dan MGMP; (b) pembahas atau peserta pada seminar, koloqium, diskusi panel atau bentuk pertemuan ilmiah lain;   (2) Publikasi Ilmiah. Publikasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan secara umum. Publikasi ilmiah mencakup 3 kelompok kegiatan, yaitu:  a) presentasi pada forum ilmiah, sebagai pemrasaran/nara sumber pada seminar, lokakarya ilmiah, koloqium atau diskusi ilmiah, b) publikasi ilmiah hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan formal, mencakup karya tulis berupa laporan penelitian di bidang pendidikan di sekolahnya  dan tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan formal dan pembelajaran di sekolahnya, serta c) publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan dan/atau pedoman guru, meliputi buku pelajaran atau buku pendidikan, modul/diktat, hasil terjemahan, dan buku pedoman guru; serta (3) Karya Inovatif, meliputi: a) menemukan teknologi tetap guna, b) menemukan/menciptakan karya seni, c) membuat/memodifikasi alat pelajaran, dan d) mengikuti pengembangan penyusunan standar pedoman soal dan sejenisnya.

Dibalik Layar:

(Tulisan ini sebenarnya saya buat untuk diikutkan dalam lomba penulisan essai tentang pendidikan bagi guru dalam rangka Festifal Sastra Banggai yang diadakan pada bulan April 2017 yang lalu. Tapi entah mengapa ternyata lomba tersebut tidak jadi diselenggarakan.  saya sendiri tidak paham apa itu tulisan Essay, jadi ya asal nulis saja kemudian saya emailkan, eh setelah itu gak ada kabar berita dan setelah dikonfirmasi ternyata tidak jadi lombanya. Dan baru sekarang saya berpikir untuk saya posting di sini dalam dua kali postingan. Setelah selesai part 2 nya nanti, Jika tak keberatan mohon masukan para pembaca utamanya anggota grup Obrolin yang mengerti tentang essai apakah ini sudah termasuk kategori tulisan essai atau belum dan mungkin ada masukan lainnya. Terimakasih)

 

Referensi:

Baswedan Anies. 2016. Video Sambutan Mendikbud Pada program Guru Pembelajar.https// sim.gurupembelajar.id

Masaong, 2012. Supervisi pembelajaran dan Pengembangan Kapasitas guru. Bandung: Alfabetha

Permennegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009.

Pedoman Pengelolaan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), 2010. Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud

Rusman,  2011. Model-model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru). Jakarta : Rajawali Pers

Undang-Undang RI No. 14. Tahun 2015. Tengan Guru dan Dosen. Jakarta: Kemdikbud

Zulrahmat. 2016. Metanoia Profesionalisme Guru Pembelajar. www.simposium. gtk.kemdikbud.go.id/karya. Diunduh tanggal 20 november 2016

Kabar Duka (lagi)

 

Hampir setiap hari berita duka cita mampir ke telinga kita, tetapi jika berita duka itu  datang dari keluarga, teman, atau tetangga tentu membuat kita ikut bersedih.  Pernah saya tulis di sini tentang   kabar duka dari teman kerja. Hari inipun aku bersedih lagi, mengetahui kabar duka dari teman jauh tapi dekat. Jauh dalam artian tempat tinggalnya, dekat dalam artian mengenal secara personal, karena dia adalah teman sekelas saat SMA, yakni Pak Bambang Hartono. Meskipun setelah lulus SMA saya baru sekali bertemu, yakni pada saat reuni tahun 2012, tetapi karena kami tergabung dalam grup WA maka kami semua serasa masih dekat.

Sejak beberapa hari yang lalu memang grup WA kami, yakni “Tipasda 86” sudah ramai membicarakan beliau. Karena sekitar seminggu lalu beliau tak sadarkan diri (koma)  saat di Riau dalam rangka melaksanakan tugas dari kantornya yang terletak di Jakarta. Memang beberapa tahun lalu beliau pernah kena stroke ringan, dan menurut info saat di Riau tersebut terkena yang kedua, jadi lebih parah.

Tentu saja kami dari jauh tak lupa ikut mendoakan beliau, tapi syukurlah ada salah seorang teman grup yang tinggal di Riau yang segera menyempatkan diri bezuk di salah satu rumah sakit di sana. Teman ini selain bezuk secara pribadi sekaligus membawa amanah dari anggota grup menitip salam untuk istrinya sekaligus menitip sekedar tanda empati kami.

Diantara grup yang saya ikuti, memang grup inilah yang paling lumayan saya ikut berkomentar, karena anggotanya teman yang umurnya hampir sama sehingga komunikasi kami lebih nyambung biarpun hanya sekedar bernostagia. Dan ada nilai tambah  dari grup ini yakni memiliki misi ikut berempati kepada sesama angota grup yang sedang membutuhkan perhatian. Empati berupa doa, dan kepedulian. Oleh karena itu grup ini memiliki kas yang dikumpulkan langsung secara sukarela baik saat reuni yang ditetapkan dua tahun sekali maupun via transfer bank. Sehingga jika ada teman yang perlu untuk diperhatikan adminnya langsung mengkoordinasi. Alhamdulillah ….

Kembali ke teman kami yang baru dipanggil Allah, beliau sempat diterbangkan ke Yogya hari kamis, 26 Oktober 2017 kemarin dalam kondisi masih tak sadar, untuk dirujuk ke salah satu rumah sakit di Solo. Mengapa di Solo? Tentu saja untuk mendekatkan dengan keluarga besar di Sukoharjo kampung halaman yang tak jauh dari Solo.

Selama di terbangkan banyak teman yang selalu memantau perkembangannya hingga sampai dirawat di rumah sakit. Beberapa teman yang berdomisili di sekitar Solo dan Sukoharjo telah berencana untuk bezuk, tetapi ternyata belum sempat bezuk beliau telah dipanggil yang kuasa untuk menghadap selama-lamanya.

Akhirnya saya ucapkan “Selamat jalan sahabat Bambang Hartono” Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun. Semuga engkau Husnul Khotimah, diampuni semua dosamu dan diterima semua amal baikmu sehingga ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT. Keluarga yang ditinggalkan semoga tabah dan dan mengiklhaskannya. Aamiin… Ya Robbal Aalamiin ….

Dan kita yang masih diberi umur sampai detik ini, hanya menunggu antrian. Setiap mendengar berita duka apalagi dari teman yang sebaya, saya selalu mangatakan “ternyata hanya beginilah hidup di dunia”. Memang kita telah sering mendengar ceramah bahwa hidup di dunia ini ibaratnya hanya “mampir ngombe” (singgah minum), karena hidup yang lebih panjang adalah di kampung akhirat. Tetapi saat tak ada sanak saudara dan handai taulan yang meninggal kita. kita serasa masih akan lama menikmati dunia, sehingga kadang lalai dengan urusan akhirat.  Ya Allah …. ampuni hamba-Mu ini dan ingatkan kami agar selalu mempersiapkan diri untuk menerima giliran menghadap-Mu, entah kapan karena itu salah satu rahasia-Mu ya Allah …..

Aamiin ….Ya Robbal Alamiin.

Saksi Bisu

Dinding  kombinasi warna ungu muda dan hijau  muda yang menyekat ruang privasiku dengan ruang-ruang lain di rumah ini tetap kaku membisu setiap kali aku menatapnya.

Tetapi lemari pakaian berumur lebih dari umur sulungku yang telah memudar warna kayunya dan entah sudah berapa kali diganti cerminnya, yang tetap menyambutku ramah meski dengan kebohongannya

Aku tahu cermin itu selalu berbohong untuk kebaikanku, agar aku tak tambah minder dengan penampilanku. Tapi mengapa aku tetap suka menerima kebohongannya, dan bahkan kadang aku sering lupa bahwa dia selalu berbohong kepadaku. Mungkin lebih dari 5 kali sehari aku berdiri di depannya, selama berpuluh tahun ini.  Selama itu pula  dia berjasa meningkatkan kepercayaan diriku hingga beberapa pencapaianku

Ada lagi yang tetap setia menerima keluh kesahku, yakni springbed usang yang kini telah menonjol sebagian kawatnya dan telah cekung di bagian tengahnya karena busanya yang semakin tipis dimakan usia. Tapi aku tahu dia telah menjadi saksi bisu sebagian besar sejarah hidupku.

Dia menjadi saksi bisu pula aku memperoleh bayi-bayiku dan  membesarkannya  hingga mereka menjadi anak-anak dan harus pindah ke kasurnya sendiri. Menjadi saksi setiap kali aku  tersenyum atau tertawa di atasnya, entah itu tersenyum dan tertawa bahagia atau tersenyum pahit atas kebodohan dan kekonyolanku sendiri.

Dia pula menjadi saksi berapa kali aku bersedu sedan dengan linangan air mata yang membasahi sprei yang membungkusnya, bahkan berapa lama aku merenung dan merasa kesepian di atasnya.

Kini, kasur ini terasa semakin luas dan semakin dingin, entah untuk berapa lama tak ada lagi bungsu yang dulu sering nimbrung ikut menidurimu karena takut di kamarnya sendiri. Tak ada  pula sulung yang sebelumnya ikut menidurimu meski hanya sekitar enam bulan, hingga akhirnya dia mempunyai kasurnya sendiri yang harus selalu dia tiduri bersama suaminya.

Dinding-dinding kamar, lemari pakaian, dan springbed  itu tak tahu sampai kapan aku masih bisa menjumpainya, melihatnya, berkaca di depannya dan menidurinya.

Apakah tinggal sehari, seminggu, sebulan, setahun, dua tahun, tiga tahun atau mungkin masih berapa puluh tahun lagi tak ada bayangan dalam otakku untuk membuat prediksinya.

Jika toh masih bertahun-tahun lagi aku masih bisa menjumpainya, berkaca di depannya, dan menidurinya, berarti aku masih di sini masih harus setia bersamanya, dan mungkin mereka tetap akan menjadi saksi bisu sampai usia senjaku bahkan usia rentaku. Mungkin mereka akan menjadi saksi  saat lututku tak mampu lagi beranjak darinya. Menjadi saksi saat aku harus menunggu anak atau cucu mengantarkan makanan untukku setiap jam makan tiba, mungkin juga menjadi saksi saat anak cucu menggendongku jika aku perlu ke toilet.

Ah … haruskah aku bermelow melow sekarang ini dengan apa yang belum tentu terjadi di masa depan???

Bisa jadi aku akan meninggalkannya dalam waktu beberapa waktu ke depan, meninggalkannya dalam artian karena aku harus pergi jauh atau “jauh sekali” dan tak kan kembali  atau meninggalkannya  karena aku menemukan saingannya.

Seperti halnya aku,  anak-anakku tentu tidak menginginkan aku pergi “jauh sekali”, untuk waktu selama mungkin.  Tapi  apakah mereka memahami keinginanku?

Bahwa meskipun dinding, lemari, dan springbed tua itu  telah banyak berjasa kepadaku  tapi seringkali muncul godaan untuk menemukan saingannya. Namun apa ada yang memahami bahwa aku ingin mendapatkan saingannya tapi bukan karena jerih payahku sendiri atau jerih payah anak cucuku kelak. Kalau hanya karena jerih payahku, atau mungkin jerih payah anak cucuku, apakah dapat menggantikan kebisuannya dan kedinginnanya menjadi lebih ramah dan hangat untukku? Ah … kalau hanya itu aku tak menginginkannya sekarang, aku tak mau godaan itu selalu datang, kecuali ada yang memahamiku dan mendukungku. Aamiin….

Tanpa Mereka Hidupku Galau

 

Setiap orang tentunya memiliki benda-benda kesayangan atau benda-benda yang sangat berharga. Dikatakan berharga bukan karena harganya yang mahal tetapi karena kegunaannya yang sangat menunjang keberlangsungan hidup kita di dunia. Sehingga tanpa benda itu hidup kita terasa ada yang kurang dan tidak nyaman, bahkan bisa menjadi galau. Nah … inilah 4 benda yang kumiliki, meskipun mereka telah butut semua, tetapi tanpa mereka hidupku akan galau, bahkan mungkin kacau.

  1. Laptop

Sebenarnya benda yang kumiliki saat ini lebih tepat disebut sebagai notebook. Aku tidak tahu apakah penyebutan notebook hanya karena ukurannya yang kecil atau termasuk spesifikasinya, yang kutahu pada iklan-iklan atau toko yang menjual laptop, laptop yang berukuran  kecil sering disebut sebagai notebook. Tetapi dalam keseharian kebanyakan orang tetap menyebutnya sebagai laptop. Demikian juga aku menyebut benda kesayanganku yang satu ini sebagai laptop.

Aku memiliki laptop yang kupakai mengetik sekarang ini sejak bulan Juli 2010, dan kondisinya sudah hilang tombol huruf C serta terdapat garis merah dan buru di layar bila dinyalakan. Sebelumnya aku pernah memiliki laptop yang kubeli dari tunjangan sertifikasi yang pertama kali kuterima, yakni tahun 2008. Tetapi di tahun 2010 sulungku lebih membutuhkannya   dan karena belum bisa membelikan yang baru, maka kuberikan laptop pertamaku. Oleh karena itu setelah ada rej’ki lagi aku membeli yang “ini”.

Dan sejak saat itu tak ada seorangpun yang dapat menandingi kedekatanku dengannya. Selain untuk mempersiapkan perangkat pembelajaran dan mengajar, tentu saja laptop kugunakan untuk membuka internet. Meskipun memiliki android, aku lebih nyaman membuka google, youtube, situs belanja online, facebook, dan akun wordpressku dengan menggunakan laptop. Bangun tidur seusai melakukan kebiasaan dan kewajiban, aku menyentuh dan membuka lebih kurang satu jam, setelah berbenah aku membawanya ke tempat kerja dan akan bersamanya sejak jam 07.15 sampai dengan jam 14.00.

Sepulang kerja setelah ganti baju, makan dan sebagainya kubuka lagi benda satu ini, jika tak ada kegiatan di luar rumah maka aku bersamanya sampai menjelang maghrib dan hanya kutingal sholat dan kadang beberes rumah atau mengambil cemilan sebentar. Setelah maghrib atau isya’ pun kembali aku bergelut denganya sampai sekitar jam 9 atau 10 malam. Jika dihitung-hitung dalam sehari mungkin lebih dari 13 jam aku bersamanya, jauh lebih banyak kebersamaanku dengannya dibanding dengan anak-anakku. Sehingga terkadang mereka cemburu terhadapnya, dan marah pada ibunya karena merasa tak lebih berarti dibanding dia. Tetapi saat ini mereka telah jauh dari sisiku, maka tak ada lagi yang mencemburuinya. Dan aku begitu leluasa untuk semakin asyik bersamanya. Tapi bukan berarti aku lebih bahagia mereka tak di sisiku lho, tetapi karena kondisinya harus seperti ini ya dijalani saja dengan ikhlas.

  1. Kasur

Sebelum membahasnya boleh dibaca percakapan singkat di bawah ini,

Suami : Seandainya rumah kita kebanjiran, benda apa yang pertama kali kamu akan selamatkan?

Aku        : Ya…dokumen-dokumen penting dong.

Suami   : Ah …pasti bukan itu

Aku        : Kalau begitu apa dong?

Suami    : Pasti kasur

Aku        : Oh …ha ha ha …..

Percakapan di atas adalah benar terjadi saat suamiku masih ada tentunya. Itu menunjukkan bahwa benda yang bernama “kasur” tak pernah lepas dari hidupku. Benda ini benar-benar benda yang tak boleh tidak ada dalam kehidupanku. Seingatku sejak SMP aku selalu melakukan semua kegiatan belajarku di kamar khususnya di kasur sambil berbaring. Padahal konon membaca sambil berbaring kurang baik untuk mata, tetapi kebiasaan ini sudah terlanjur mendarah daging sejak kecil, dan seingatku orang tuaku pun tak pernah menegurku (walah nyalahin orang tua).

Jadilah kebiasaan itu berlanjut sampai sekarang, bahkan sekarang membaca dan menulis di laptoppun lebih sering kulakakan  sambil berbaring di kasur. Jadilah kebersamaanku dengan kasur tak bisa dipisahkan lagi. Dan aku akan sulit tidur bila tidak ada kasur. Kasur yang kupakai sekarang  ini telah berusia 18 tahun, dan sebagian kawatnya sudah ada yang mulai menonjol, serta sandaran kepalanya telah rusak sehingga kulepas, tetapi aku masih merasa nyaman bersamanya dan belum berencana untuk menggantinya dalam waktu dekat. Jika beberapa hari kutinggalkan ke luar kota aku sering merindukannya dan lansung meniduri sepuasnya sesampainya di rumah.

  1. Handphone (Android)

Siapa sih orang di masa kini yang tidak memiliki Handphone (HP). Dalam keluargaku hanya ayahku yang telah berusia lebih dari 80 tahun yang tidak memilikinya, sedangkan ibuku yang hanya beberapa tahun lebih muda dari ayahku pun memilikinya meskipun hanya HP biasa yang tak ada kameranya. Karena kebutuhan beliau hanya untuk menelphone dan ditelphone anak-anaknya dan sesekali saudaranya.

Ya, benda ini tentu juga kumiliki, untuk HP biasa sejak tahun 2004 kumiliki. saat itu di daerahku memang baru mulai ada jaringan telkomsel dan aku membelinya seharga 1,1 juta, jauh lebih tinggi dari jumlah gajiku sebulan saat itu. Tetapi HP perdana itu sekarang sudah tak ada lagi. Sejak saat itu aku sudah ganti HP biasa beberapa kali dan akhirnya tahun 2014 aku membeli HP Android. Mulailah aku bisa chating dan mengunggah – unggah foto di media sosial melalui HP satu ini, kadang juga membuka google, youtube atau akun wordpress, selain fungsi utamanya untuk menelphone dan sms.

Untuk sekarang ini, tipe HP seperti yang kumiliki sudah sangat ketinggalan, baik dari sisi ukuran, tampilan,  kamera, ram, dan memorinya. Namun demikian sampai sekarang belum ada penggantinya dan aku juga belum memaksakan diri untuk mencari penggantinya. Seandainya suatu saat sudah ada penggantinya, HP ini tak akan kupindahtangankan karena aku terlanjur menyayanginya. (mohon maaf untuk HP tak bisa kulampirkan fotonya, karena tak ada lagi kamera di rumah yang dapat kugunakan untuk memotretnya)

  1. Motor

Aku mulai memiliki motor sejak tahun 2004. Kala itu mulai ada motor matic pertama kali di Indonesia. Sejak setahun sebelumnya aku membaca iklan di koran bahwa di Indonesia mulai ada motor matic yang tidak perlu menggunakan persneling dan cocok dikendari oleh wanita karena model dan tingginya yang cocok untuk ukuran tubuh wanita Indonesia. Saat melihat iklan di koran aku sudah berencana ingin memilikinya, karena saat itu aku belum berani mengendarai motor konvensional di daerahku yang berbukit-bukit dan banyak kelokkan.

Maka begitu sudah ada di daerahku tahun 2004 alhamdulillah aku berhasil memilikinya karena di belikan oleh suami. Menurut dealernya kami adalah pembeli ke empat motor matic ‘MIO” di daerah kami. Setelah memilikinya aku belajar mengendarainya dan alhamdulillah sampai sekarang motor ini masih ada di tanganku meskipun sudah memiliki motor matic kedua yakni  “Beat” sejak tahun 2008. Setiap hari motor selalu kugunakan berbagai keperluan dari urusan pekerjaan, mengantar anak sekolah dan keperluan lain, ke pasar, pengajian, dan sebagainya.

Jadi jelas motor  merupakan benda yang tak pernah lepas dari hidupku kecuali pergi ke luar kota, maka dalam keseharian benda ini sangat menunjang  berbagai aktifitas. Jika tak ada motor memang ada ojek atau angkot tetapi dengan menggunakan motor jauh lebih lincah dalam bergerak dan lebih hemat serta mudah tentunya.

Bagaimana dengan pembaca? Mungkin benda-benda di atas juga merupakan benda kesayangan anda? atau mungkin masih sederet lagi benda lain yang tak bisa lepas dari hidup anda? Jika berkenan mohon diceritakan ya ….

Perasaan Apa ini?

Minggu pagi ini, ternyata telah hari ke sebelas aku mengepostkan tulisan terakhir. Dan setelah beberapa hari tidak menulis untuk blog  ternyata menumpulkan otakku untuk mulai menulis  lagi. Sejak sepulang dari Jawa dua hari lalu, kemarin aku ingin mulai menuliskan sesuatu, tetapi selalu kuhapus hasilnya, kutulis, kuhapus, dan seterusnya. Padahal terkait dengan pernikahan sulungku, dari lamaran, perencanaan yang memakan waktu lebih dari 4 bulan dan pelaksanaan akad nikah, resepsi, serta acara syukuran di rumah besan,  tentunya banyak sekali yang masih bisa dituliskan, tetapi mengapa aku bingung apa yang harus ku tulis dan dari mana aku harus mulai menulis. Yang pasti kemarin sore hanya inilah tulisan yang sudah terketik oleh jari tanganku dan tidak kuhapus lagi. Dan judul di atas adalah judul untuk tulisan super pendek ini,

Jika hati ini sebuah segi empat  yang bersudut A, B, C, dan D, maka:
Di sudut A ada perasaan puas dan bersyukur
Di sudut B ada perasaan heran dan penuh tanya
Di sudut C ada perasaan bersalah dan menyesal
Di sudut D ada perasaan kecewa tapi tak tahu pada siapa
Dan di tengah-tengahnya seperti ruang yang kosong hampa tak ada rasa

Luwuk, 7 Oktober 2017

Hanya Ingin Ngobrol Denganmu, part 3 (Akad Nikah)

images (2)
sumber gambar: alsofwa.com

Setelah melewati kesibukan belakangan ini, tak tahan aku ingin lagi  ngobrol denganmu. Bahkan yang ingin kuobrolkan lebih banyak lagi,  kamu senang kan kuajak ngobrol? Saya yakin itu. Meskipun sebenarnya bentuk komunikasi kita ini lebih tepat diberi judul  “aku ingin bercerita”, tapi aku tetap menuliskan sebagai ingin ngobrol, karena sebenarnya yang kuinginkan adalah ngobrol yang sebenarnya.

Namun kali ini sebagian dulu yang ingin kuobrolkan ya,  karena hanya sebentar waktu yang kumiliki hari ini dan sepertinya kita belum bisa ngobrol lagi untuk beberapa hari ke depan. Obrolan kali ini terkait obrolan sebelumnya,  tetapi kali ini anak tengah kita ikut kita obrolin. Kamu kangen juga kan dengan tengah kita? Ya tengah sekarang sudah semester 7 dan kemarin dia mengatakan akan segera mengajukan judul skripsinya.

Namun sekarang kita belum membahas detail tentang dia, karena obrolan kali ini masih terkait dengan sulung. Kamu ingat kan yang lalu aku mengatakan sulung telah menemukan jodohnya dan segera akan menikah. Dan  Alhamdulillah pernikahan itu telah berlangsung sembilan hari yang lalu.

Sebagai tamu aku telah sering menyaksikan peristiwa akad nikah, dan selalu terharu dengan prosesinya. Bagiku akad nikah adalah peristiwa luar biasa bagi umat Islam. Dengan ucapan yang hanya satu kali tarikan napas baik yang menikahkan maupun yang dinikahkan, maka sepasang manusia yang sebelumnya bukan siapa-siapa dan haram berduaan, haram saling sentuh dan sebagainya, menjadi halal untuk segalanya bukan hanya berduaan dan bersentuhan. Bahkan dengan ucapan akad nikah maka dua keluarga yang sebelumnya bukan siapa-siapa menjadi keluarga baru. Maka peristiwa akad nikah selalu membawa keharuan bagiku, dan tentu saja bagi hampir semua tamu.

Maka saat  sembilan hari yang lalu aku menyaksikan pernikahan putri sendiri, bukan hanya keharuan yang kurasakan, tapi juga berbagai perasaan yang sulit kuungkapkan. Dan ternyata perasaan haru luar biasa dirasakan pula oleh saudara-saudara dan sahabat-sahabat kita. Itu karena yang menikahkan sulung adalah tengah yang tak lain adalah adik laki-laki nya yang masih berusia 20 tahun.

Kamu tahu kan, setelah kamu pergi laki-laki yang pertama memiliki kewajiban menikahkan sulung adalah anak tengah kita itu. Tetapi karena dia masih muda, sempat kutanya dua kali pada hari sebelumnya apakah akan menikahkan sendiri atau diwakilkan kepada wali hakim. Dia langsung menjawab dengan mantab” Saya nikahkan sendiri ibu”. Maka aku sempat merasa bangga dangan jawabannya itu. Dan Alhamdulillah pada Hari Ahad, 17-09-17 lebih kurang jam 9.30 WITA, anak  tengah kita mengucapkan “ Hai  Lutfi Agung Mardiansyah 3 x, saya nikahkan kakak saya yang bernama … dengan mas kawin …dibayar tunaaaaaaii” dan langsung dijawab oleh Lutfi Agung “Saya terima nikahnya ….dengan mas kawin tersebut tunai”. Dan para saksi langsung menyahut “sah ….sah….”. Seketika berbagai doa terucap dari hati terdalamku untuk kedua pengantin kita, disela-sela isak tangisku dan isak tangis hampir semua orang yang ada di ruangan tempat akad nikah. Dan ternyata juga para tamu yang ada di luar ruangan (menurut informasi dari mereka). Hujan air mata pun tak terelakkan saat prosesi sungkeman hingga membutuhkan waktu cukup lama.  Hujan air mata selalu terjadi pada peristiwa  sungkeman dimanapun, tetapi kali ini mungkin lebih deras karena yang disungkemi pengantin bukan ayahnya tetapi omnya, selain aku ibunya dan mertua tentunya.

Hujan air matapun berakhir seusai sungkeman dan pengantin didudukkan di pelaminan bersama orang tua, suasana sudah berubah menjadi ceria. Kebahagiaan tak dapat kusembunyikan melihat hadirnya para tamu undangan. Saya yakin kamu juga menyaksikan peristiwa itu semua kan? Kamu juga terharu dan bahagia kan? Kamu juga bangga terhadap tengah kita kan?  Saya yakin itu!  Saya ingin mengupload foto-foto saat akad nikah itu, tetapi sampai saat ini belum kumiliki. Orang-orang yang sempat memotret sudah pada pergi, dan foto dari dokumentasi yang disewa baru jadi tadi pagi dan telah dimasukkan ke koper oleh sulung saat aku masih di sekolah, karena mereka terbang ke Jawa hari ini.

Ah … kalau ada yang saya sesali sampai hari ini hanya masalah itu,  selebihnya aku sangat bersyukur karena acara akad dan resepsi pernikahan sulung telah berjalan dengan lancar.  Maka tenanglah di sana …In Sha Allah sulung dapat menjalani rumah tangga yang sakinah mawaddah wa Rohmah, serta penuh berkah, dikarunia putar-putri sehat dan soleh/ah,  diberi rejeki yang melimpah dan berkah. Aamiin Aamiin Aamiin Ya Robbal Alamiin.

Hanya Ingin Ngobrol Denganmu, Part 2 (lanjutan)

Setelah ngobrol sekitar masa sulung dalam rahimku dan masa kecilnya  mari kita lanjutkan ngobrol lagi ya ….

Sulung tumbuh besar dengan tidak selalu bisa kau lihat perkembangannya. Dia tidak lagi berbadan kecil seperti saat balita, seingatku sejak TK dia sudah memiliki ukuran badan sama dengan teman-temannya, bahkan kini dia termasuk bertubuh tinggi, tidak sepertiku. Saat SD dia bersedia pulang pergi sekolah dengan berjalan kaki, maklum saat itu aku kan belum bisa naik motor, dan belum ada ojek seperti sekarang.

Saat terjadi gempa besar di daerah kita pada bulan Mei 2000, dia masih kelas 3 SD. Saat itu dia tengah berjalan sepulang sekolah. Saya sendiri  tengah berada di sebuah toko, sehingga tak bersamanya saat dia ketakutan dan hanya mampu berpegangan rumput di lapangan Persibal, jalan yang biasa dia lalui pergi dan pulang sekolah. Saya mengetahui itu dari beberapa teman kerja yang kebetulan juga tengah berjalan di lapangan.

Saat mau masuk SMP dia ingin mengenakan jilbab dengan sendirinya, sehingga saat dijahitkan baju seragam  dia minta  dijahitkan yang panjang. Kala itu masih jarang anak sekolah di Luwuk yang mengenakan jilbab, sehingga sulung sempat kutanya sampai beberapa kali tentang ketetapan hatinya mengenakan jilbab, sampai dia heran mengapa ibu masih bertanya terus.

Saat masih di SMP pula dia juga berketetapan untuk masuk pondok di Jawa untuk melanjutkan sekolah SMA nya, dan tentu saja kita  sangat senang dan bersemangat mengetahui hal itu. Dan singkat cerita akhirnya anak ini  kuantarkan mondok di salah satu Pondok Pesantren Modern di Solo.

Ah … ternyata saat dia masih kelas 3 Madrasah Aliyah di pondok tersebut, kamu tiba-tiba pergi untuk selamanya dan yang lebih menyedihkan dia tak sempat melihatmu untuk terakhir kalinya. Dia hanya bisa mendengar suaraku menjelaskan saat prosesi pemakamanmu melalui HP yang belum ada kameranya, yang selalu kunyalakan selama prosesi. Kamu tahu dia paling tampak sangat terpukul dengan kenyataan itu, tak henti-hentinya dia menangis di pusaramu dua hari setelah kepergianmu karena dia baru bisa tiba di Luwuk hari itu.

Hampir saja dia tidak mau kembali ke pondok setelah itu, tetapi dengan bujukan dan nasihatku dan orang-orang di sekitarnya akhirnya dia mau kembali ke pondok.  Kamu tahu apa yang dia minta padaku saat kuantar ke bandara? Dia Mengatakan “Ibu, titip adik-adik saya ya”. Oh … aku hampir menangis mendengar ucapannya, tetapi kutahan sembari menjawab “ Iya, adik-adikmu kan anaknya ibu juga, pasti ibu jaga dengan baik”

Setelah lulus dari pondok, dia mendaftarkan diri pada salah satu PTN di Semarang dan aku menangis saat tahu dia lulus di Fakultas Psikologi yang dia pilih. Aku senang selain karena berkesempatan kuliah di PTN, juga karena dia memang sepertinya cocok di fakultas itu, mengingat saat di SMP  selalu menjadi tempat curhat teman-temannya.

Aku tak bisa menceritakan bagaimana dia berproses saat kuliah, yang jelas hampir dua tahun lalu dia lulus dan tentu saja aku serta adik-adiknya menghadiri wisudanya, bahkan bulik-bulik dan om-omnya juga sempat datang. Alhamdulillah…. Setelah  sempat bekerja di salah satu daerah di Jawa Tengah dia memutuskan untuk pulang ke Luwuk untuk menemani aku ibunya. Tetapi takdir berkata lain dia diajak taaruf oleh seorang laki-laki yang baru 2 X bertemu dengannya di Jawa. Mungkin memang sudah jodoh, karena ada kecocokan diantara mereka, sehingga mereka punya niat yang sama untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Aku yakin kamu juga senang sulung kita telah menemukan jodohnya, In Sha Allah calon suaminya kelak dapat menjadi imam yang baik untuknya.

Baru sekali saya melihatnya saya langsung merasa sayang padanya. Dalam penilaianku dia anak yang baik, sopan, bertanggung jawab, dan yang utama mengerti dan mengamalkan agama dengan semestinya. Demikian juga penilaian om dan bulik-buliknya.

Beberapa bulan ini, sejak dia dilamar secara resmi oleh orang tua pria tersebut kami mempersiapkan proses pernikahannya yang akan dilangsungkan di Luwuk. In Sha Allah …

Tinggal beberapa hari pelaksanaan akad nikah dan resepsi pernikahan akan dilangsungkan saat tulisan ini kubuat, berbagai rasa campur aduk di hatiku. Namun sebagai orang tua kita hanya bisa memberikan restu dan doa kepadanya. Semoga mereka nanti menjalani kehidupan rumah tangga yang Sakinah Mawaddah wa Rohmah serta penuh berkah,  dikarunia anak-anak yang sholeh dan sholekhah, serta selalu dapat mengelola permasalahan rumah tangga dengan bijak, sehingga hanya maut yang dapat memisahkan mereka. Aamiin…3 X Ya Robbal Alamiin….

Kamu senang kan mengetahui ini ? Saya yakin itu. Oleh karena itu tenanglah di sana, In Sha Allah Semuanya berjalan dengan lancar. Aamiin….

Sudah dulu ya ngobrolnya, aku sudah ngantuk mau tidur. Lain kali kita ngobrol lagi ya, karena banyak hal yang ingin kuobrolkan denganmu.

Kepada para pembaca terutama komunitas Obrolin mohon doa restunya juga ya …. Saya juga mengundang kalian, siapa tahu bertepatan jalan-jalan di tanah Sulawesi Tengah, monggo untuk singgah hadir pada acara kami.

IMG-20170912-WA0003[1]

Tetapi karena jauh, minimal doa restunya kami sangat harapkan. Juga mohon doanya agar pelaksanaan akad nikah dan resepsinya dapat berjalan dengan lancar dan aman. Aamiin….Terimakasih ya…