Generasi “Limited Edition”

Kali ini saya hanya mengutip salah satu tulisan yang mungkin sudah menjadi viral karena saya membacanya dari dua grup Whatsapp yang saya ikuti. Saya sangat tertarik dan sangat setuju isi tulisannya sekaligus sangat bersyukur menjadi salah satu dari generasi limited edition tersebut, oleh karena itu saya ingin mengabadikan tulisan yang entah siapa penulisnya tersebut di blog saya ini. Baiklah berikut tulisan yang dimaksud:

“ Yang lahir/Angkatan Tahun 1960 – 1980 an (yang usianya sekarang 30-an sampai sengan 50-an tahun)

Sekedar anda tahu.

Kita yang lahir di tahun 1950-60-70-80 an adalah generasi yang layak disebut generasi paling beruntung.

Karena kita generasi yang mengalami loncatan teknologi yang mengejutkan di abad ini, dengan kondisi usia prima.

Sebagian kita pernah menikmati lampu petromax dan lampu minyak, sekaligus menikmati lampu bohlam, TL, hingga LED

Kitalah generasi terakhir yang menikmati riuhnya suara mesin ketik, Sekaligus saat ini masih lincah menikmati keyboard dari laptop kita

Kitalah generasi terakhir yang merekam lagu dari radio dengan tape recorder (kadang pitanya mbulet),Sekaligus sekarang dengan mudahnya kita mendownload lagu dari gadged.

Kitalah generasi dengan masa kecil tubuh lebih sehat dari anak masa kini, karena lompat tali, loncat tinggi, petak umpet, gobak sodor, main kelereng, karetan, sumpit-sumpitan, galasin adalah permainan yang tiap hari akrab dengan kita, Sekaligus saat ini mata dan jari kita tetap lincah memainkan game di gadged.

Masa Remaja, Kitalah generasi terakhir yang pernah mempunyai kelompok/geng  yang tanpa janti tanpa telpon/sms tapi selalu bisa kumpul bersama menikmati malam minggu, karena kita adalah generasi yang cukup berjanji dengan hati. Kalau dulu kita harus bertemu untuk tertawa terbahak bersama-sama, Sekaligus sekarang kita bisa ber “wkwkwk”di grup FaceBook atau Whatssapp.

Kita generasi terakhir yang pernah melewati jalan raya tanpa macet di mana-mana, serta bersepeda onthel/motor menikmati segarnya jalan raya tanpa helm di kepala (tapi yang ini tidak patut ditiru lho) .

Kita generasi terakhir yang pernah menikmati jalan kaki berkilometer tanpa takut diculik

Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati nikmatnya nonton TV (kadang dengan layar hitam putih) dengan senang hati tanpa diganggu remote untuk pindah channel sana-sini, rame-rame satu kampung dengan power suplay accu yang bila strumnya akan habis maka akan menciut layarnya tinggal separo.

Kita adalah generasi yang selalu berdebar-debar menunggu hasil jepretan foto dicuci dan dicetak, seperti apa hasil jepretan kita. Selalu menghargai dan berhati-hati dalam mengambil foto dan tidak menghambur-hamburkan jepretan dan mendeletnya bila ada muka dengan hasil jelek. Saat itu hasil dengan muka jelek kita menerimanya dengan iklhas.Ikhlas dan tetap iklhlas apapun tampang kita di dalam photo. Tanpa ada editan kamera 360 photoshop atau Beauty face. Betul betul generasi yang menerima apa adanya.

Kitalah generasi terakhir yang pernah sangat mengharapkan datangnya pak pos membawa surat dari keluarga, sahabat, atau kekasih hati.

Kita mungkin bukan generasi terbaik, tetapi kita adalah generasi yang LIMITED EDITION

Kita adalah generasi yang patuh dan takut kepada orang tua (meskipun sembunyi-sembunyi nakal dan melawan), tapi kita generasi yang mampu mendengar dan komunikatif terhadap anak cucu

Itulah kita selalu bersyukur atas nikmat yang telah kita terima”.

Karakteristik Virus Yang Unik

Beberapa hari yang lalu artis Yuli Rahmawati atau yang lebih populer dengan nama Julia Perez meninggal dunia setelah  melawan kanker leher rahim (serviks) selama lebih kurang 3 tahun. Tentu saja kepergian artis yang dikenal dengan penampilan seksi tersebut diberitakan oleh berbagai  media termasuk media Online. Bahkan artikel yang membahas terkait kematian artis tersebut  juga banyak dituliskan  terutama tentang penyebab penyakit kanker serviks, seperti yang dapat anda baca di https://m.tempo.co/read/news/2017/06/12/205883569/belajar-dari-jupe-kenali-penyebab-dan-gejala-kanker-serviks.

Ya, penyakit kanker serviks disebabkan oleh virus   HPV (Human Papilloma Virus). Karena saya tidak berkompeten menuliskan tentang penyakit kanker dan penyebabnya, maka  saya hanya akan  menuliskan salah satu hal terkait virus secara umum yakni keunikan karakteristik virus dibanding organisme hidup.

Definisi Virus

Menurut Wikipedia virus  adalah parasit mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis, sedangkanmenurut KBBI Online Virus adalah   mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron, penyebab dan penular penyakit, seperti cacar, influenza, dan rabies.

Virus sebagai parasit tak ada yang menyangkal. Karena jika kita berbicara tentang Virus (kecuali virus komputer) selalu dikaitkan dengan penyakit yang menyerang atau menginfeksi organisme biologis, baik mikroorganisme, tumbuhan, hewan, maupun manusia. Sudah barang tentu karena menginfeksi organisme biologis maka virus merugikan inang yang ditumpanginya.

Adapun pendefinisian virus sebagai mikroorganisme, sebenarnya tidak sepenuhnya benar dalam kajian biologi. Penyebutan sebagai mikroorganisme atau organisme kecil berarti virus dianggap sebagai makhluk hidup. Jika disebut makhluk hidup, maka semestinya tubuh virus tersusun atas sel. Tetapi melalui pengamatan dengan menggunakan mikroskop elektron,tubuh virus belum dapat digolongkan sebagai sel.

Struktur Tubuh Virus

Pernahkan anda mendengar atau membaca istilah “sel virus”?. Belum pernah bukan? Tetapi istilah “sel bakteri, sel jamur, sel hewan, sel tumbuhan” tentu kita pernah mendengarnya. Ya, tubuh virus belum dapat disebut sel karena hanya tersusun atas DNA atau RNA (materi penyusun inti sel)  yang diselubungi oleh protein, dan tidak ditemukan adanya bagian-bagian sel seperti  membran sel, sitoplasma, dan inti secara utuh. Berikut struktur dari salah satu contoh virus, yakni virus T

virus 2 (slideshare.net
sumber gambar: slideshare.net

Strutur tersebut menunjukkan bahwa virus berbeda dengan sel, yang memiliki struktur ketiga komponen tersebut, serta organel-organel sel lain seperti ribosom, mitokondria, badan golgi, retikulum endoplasma dan lain sebagainya.

Dalam biologi, organisme terkecil dan paling sederhana adalah golongan bakteri  sebagai salah satu makhluk uniseluler  (organisme bersel satu). Meskipun organisme bersel satu, tetapi tubuh/sel bakteri sudah tersusun atas 3 komponen utama sel yakni membran sel, inti, dan sitoplasma, serta ribosom, mesosom, dan juga dinding sel.

Perbedaan antara virus dan sel juga dapat dilihat pada gambar berikut:

perb virus dan sel hidup
sumber gambar:slideshare.com

sitem klasifikasi makhluk hidup,tak ada virus

Karena virus berbeda dengan sel, maka para ahli taksonomi  belum memasukkan virus sebagai makhluk hidup. Hal ini dapat dilihat dari  berbagai sistem klasifikasi makhluk hidup, baik sistem 2 Kingdom (kerajaan), 3 kingdom, 5 kingdom, bahkan 6 kingdom, tidak termasuk virus ke dalamnya. Sistem klasifikasi 6 kingdom yang dewasa ini banyak dianut dalam penulisan berbagai buku pelajaran, menggolongkan  makhluk hidup  menjadi 6 Kingdom (kerajaan), yakni sebagai berikut :

  1. Archaebacteria (golongan bakteri yg hidup di tempat ekstrim)
  2. Eubacteria (golongan bakteri dan alga biru)
  3. Protista (golongan protozoa dan alga)
  4. Fungi (golongan jamur)
  5. Plantae (golongan tumbuhan)
  6. Animalia (golongan hewan)

Jadi jelaslah, bahwa penyebutan virus sebagai mikroorganisme (makhluk hidup kecil) belumlah  tepat. Jika demikian apakah virus digolongkan sebagai benda mati? Anggapan itu pun juga tidak tepat. Jadi kalau begitu tergolong apakah virus itu? Jadi binggung kan?

Keunikan virus

Iya memang, tetapi itulah keunikan virus dibanding parasit lain atau dibanding organisme biologis.

Virus merupakan satu-satunya golongan parasit yang memiliki karakteristik sebagai makhluk hidup sekaligus memiliki karakteristik sebagai benda mati. Mengapa dikatakan demikian? Karena bila virus berada di dalam sel hidup (menempel pada inang) virus menunjukkan sifat sebagai makhluk hidup , yakni dapat melakukan metabolisme dan dapat berkembang biak (bereproduksi). Sebaliknya bila berada di luar sel hidup (sel inang)  maka virus menunjukkan karakteristik sebagai benda mati, yakni tidak dapat melakukan metabolisme dan tidak dapat berkembang biak (bereproduksi).

Oleh karena itu untuk dapat berkembang biak virus mutlak memerlukan sel inang. Disinilah virus berperan sebagai parasit. Untuk dapat melakukan metabolisme dan reproduksi, virus memiliki struktur yang mengandung gen yakni DNA atau RNA yang merupakan asam nukleat (asam pembentuk inti pada sel). Tetapi berbeda dengan sel, virus hanya memiliki asam nukleat  salah satu saja, dan tidak keduanya, sehingga ada jenis virus DNA dan ada pula jenis virus RNA.

Meskipun hanya memiliki salah satu saja asam nukleat yakni DNA atau RNA,virus memiliki kemampuan luar biasa yakni dapat mengambil alih seluruh fungsi kehidupan dari sel inang, untuk keperluan reproduksinya, sehingga sel inang menjadi rusak atau hancur. Dengan demikian masuk akal jika virus sangat merugikan sel inangnya. Dan karena merusak/menghancurkan sel inang virus selalu dikonotasikan sebagai organisme penyebab penyakit.

Berikut gambar replikasi (reproduksi virus T yang menyerang dan mengahncurkan Bakteri Eschericia coli).

Litik, agroteknologi.web.id
sumber gambar:agroteknologi.web.id

Karena virus memiliki sifat sebagai makhluk hidup sekaligus memiliki sifat sebagai benda mati, maka dapat disimpulkan bahwa posisi virus di dunia ini terletak diantara keduanya, yakni diantara benda mati dan makhluk hidup tergantung di mana virus sedang berada.

Demikian, semoga bermanfaat. Aamiin…

 

 

Kenangan Masa SMA, Part 4

Dibentak dan dimarah Kepala Sekolah Karena Jilbab

Meskipun tidak lagi mengikuti pengajian Usroh seperti yang saya ceritakan pada Part 3, saya tetap konsisten dengan pakaian menutup aurat. Saat itu di sekolah-sekolah negeri belum ada atau masih sangat langka siswi  mengenakan jilbab (kerudung). Tetapi saya dan seorang teman saya yang sama-sama anggota Usroh memberanikan diri untuk mengenakan kerudung setiap harinya, termasuk saat pergi dan berada di sekolah.

Namun  apa boleh dikata saat kepala sekolah mengetahui ada dua orang siswinya mengenakan jilbab, kami dipanggil dan diberitahu bahwa di sekolah negeri tidak diperbolehkan siswi mengenakan jilbab. Kami dianggap melanggar tata tertib sekolah, dan kami diberi pilihan jika tetap mau mengenakan jilbab disuruh pindah ke SMA Muhammadiyah, tetapi jika tidak mau pindah dipersilahkan melepaskan jilbab saat kami ke sekolah.

Sesampainya di rumah saya sampaikan perkataan kepala sekolah kepada ayah, dengan maksud saya ingin pindah ke sekolah Muhammadiyah, tetapi ayah saya tidak mengijinkan. Ayah bilang sabar saja dulu toh saat itu saya sudah hampir naik ke kelas III sehingga tinggal setahun lagi InshaAllah lulus dan bisa bebas mengenakan jilbab. Akhirnya saya menuruti kata-kata ayah , dengan kata lain tetap sekolah di sekolah saya saat itu, dengan resiko melepas jilbab saat pergi ke sekolah.

Tetapi setelah beberapa waktu kemudian hatiku terusik lagi ingin mengenakan jilbab, namun di sisi lain masih takut dengan kepala sekolah. Maka akhirnya saya mengenakan jilbab saat berangkat ke sekolah, tetapi melepaskannya di luar pagar sekolah dan pulangnya setelah diluar pagar  jilbab saya kenakan lagi.

Suatu hari saat pulang dari sekolah, jilbab saya pakai di tempat parkir, saat itu saya ke sekolah memakai sepeda. Tetapi naas saat di depan pintu gerbang sekolah ada kepala sekolah berdiri di situ, dan setelah melihat saya yang berkerudung, beliau menghentikan dan membentak-bentak saya dengan kasar. Beliau juga bilang “Jangan lagi dipakai itu kerudung, sudah diperingatkan dari dulu, masih melanggar”

Betapa malunya saya saat itu, di tengah-tengah seluruh siswa pulang sekolah saya dibentak dan dimarah kepala sekolah. Sambil mengayuh sepeda saya menangis sambil gemetaran, hingga tidak konsentrasi bersepeda tak terasa sudah terjadi tabrakan dengan sesama sepeda. Untunglah saat itu saya tidak cedera.

(sampai di sini saya jadi membandingkan dengan kondisi sekarang, berbanding terbalik dengan keadaan saya saat itu, siswa sekarang sudah diberi kebebasan menjalankan perintah agama, termasuk mengenakan jilbab, tetapi mereka tidak menggunakan kesempatan itu secara maksimal, malah sebaliknya fenomena terkini banyak siswa mengenakan jilbab saat  ke sekolah, tetapi di luar sekolah tidak mengenakan. Benar-benar terbalik dengan yang saya alami dulu)

Memberikan sambutan kesan dan pesan saat perpisahan

Tidak seperti saat SD dan SMP, di akhir kelas III SMA tidak diadakan Darmawisata. Tetapi sekolah kami (OSIS) mengadakan perpisahan sederhana yang diadakan di Aula sekolah dengan duduk lesehan di lantai aula. Beberapa hari sebelum pelaksanaan perpisahan,  teman sekelasku yang bertindak sebagai sekeretaris  pada kegiatan tersebut datang ke rumah untuk memintaku  memberikan sambutan (kesan dan pesan) yang mewakili teman-teman kelas III.

Tentu saja saat dia memintanya saya kaget, karena selama di SMA saya hanya murid biasa-biasa bahkan guru saja jarang yang mengenalku dengan baik. Selain prestasiku biasa-biasa, penampilanku juga biasa-biasa. Sebaliknya teman-teman baik yang sekelas maupun beda kelas,mereka pintar-pintar dan banyak yang cantik dan menarik. Saya sempat menanyakan kepada teman yang memintaku tersebut, mengapa saya yang disuruh untuk memberikan sambutan. Temanku hanya menjawab, “karena kami percaya mbak Nur pasti bisa”. Ya sudah akhirnya kehormatan itu saya terima dengan senang hati yang selanjutnya saya  tindak lanjuti dengan  mempersiapkan menulis isi pesan dan kesan yang akan saya bawakan di podium. Alhamdulillah kesan dan pesan berjalan dengan lancar meskipun sedikit grogi dan gemetaran diawalnya. 

Mengenal Sahabat Pena

 Seperti yang sudah saya tuliskan pada Jodoh dari sahabat pena, saat di SMA saya mempunyai banyak sahabat pena yang saya kenal melalui koran. Bahkan salah satu sahabat pena akhirnya menjadi  jodoh saya. Karena sudah saya ceritakan maka tak perlu lagi kutuliskan kisahnya di sini.

Di samping itu sebenarnya masih ada cerita lain yang masih saya ingat meskipun telah melewati angka 30 tahun. Tetapi karena tulisan ini sudah sangat panjang, maka cukup sudah kisah Kenangan Masa SMA sampai di sini. Saya yakin para pembaca tentu juga mempunyai pengalaman yang unik dan mengasyikan saat SMA, bahkan mungkin lebih seru dari pengalaman saya ini. Jika berkenan mohon dibagi ya!

Sedih

Hari ini  di kota kecilku tak terlihat matahari sama sekali, bahkan kalau tidak salah sejak kemarin malam cuaca memang kurang bersahabat bagi orang yang ingin cuaca hangat. Siangnya kadang hanya mendung, kadang disertai rintik hujan, tetapi malamnya hujan cukup deras sepanjang malam, hingga udara selalu dingin sampai menusuk tulang bagi orang seumuranku.

Berbanding lurus dengan cuaca yang membuat orang malas beraktifitas, jika tak karena keharusan, maka hatikupun demikian adanya. Hatiku diliputi mendung tebal sejak kemarin siang, rasanya aku tak mampu menyunggingkan sedikit saja senyum dibibirku, sebagaimana halnya matahari tak mau memunculkan seberkas sinarpun meski hanya samar-samar yang dapat menghangatkan dunia.

Tentu ada yang bertanya “Mengapa hatimu mendung bunda?” Tetapi sayangnya saya tak bisa menjabarkan dan mendeskripsikan, apa penyebabnya. Yang pasti orang sedih pastilah ada pemicunya. Aku ingin sekali bisa menguraikan, tapi aku tak bisa. Aku ingin bisa mendeskripsikan tapi aku tak bisa.

Sampai di sini saya menyadari bahwa sebenarnya tak ada manusia yang benar-benar merdeka. Bahkan sebagai orang yang seringkali menulis segala hal terkait perasaanpun, tak selalu bisa merdeka menuliskan apa yang dirasakan. Manusia dengan segala perannya dalam kehidupannya sebenarnya selalu terpasung oleh segala peraturan baik tertulis maupun tidak terulis yang berlaku di mana ia punya peran.

Peraturan tertulis mungkin lebih mudah dipahami dan dihadapi karena di dalamnya hanya ada warna hitam dan  putih yang jelas. Meskipun pasal-pasalnya kadang ditafsirkan berbeda antara satu ahli dengan ahli lainnya, tetapi semuanya menuju ke kutub hitam atau putih. Berbeda dengan peraturan tidak tertulis, sungguh lebih sulit dipahami dan dihadapi karena di antara hitam dan putih sebenarnya banyak warna lain, tergantung dari sudut pandang mana orang melihatnya.

Karena itu aku hanya bisa mengatakan sedih tanpa bisa menuliskan mengapa sedih, kesedihan ini mungkin saja merupakan akumulasi, tetapi selama ini aku tak menganggapnya sebagai sesuatu yang penting. Karena sebagai manusia yang punya fikir, aku juga harus mendahulukan pikir daripada rasa. Aku harus mendahulukan kepentingan lain yang berpijak pada “pikir” di atas kepentingan apapun yang hanya berpijak pada “rasa”

Ah sudahlan… sebelum pembaca makin pusing dengan tulisan ini, kuakhiri saja celoteh yang tak berujung pangkal ini. Biarlah aku berusaha berdamai dengan rasa sedih ini, biarlah aku jika harus menangis karenanya, toh menangis tidak perlu dibeli, dan setelah menangis biasanya hati menjadi lebih damai. Aamiin…

Mengambil Ibrah dari Peristiwa Kematian

Menjelang bulan ramadhan sampai hari ini di hari ke-6 bulan ramadhan, tak diduga-duga terjadi peristiwa kematian beruntun yang menimpa 3 orang tetangga (seorang bapak, dan dua orang ibu), seorang ibu dari teman kerja, seorang mantan murid dan bahkan seorang rekan kerja saya. Kegiatan yang saya ikuti sedikitnya melayat dan menghadiri pemakamannya serta menghadiri ta’jiyah setelah tiga harinya .

Seperti halnya hari ini, saya baru saja pulang dari pemakaman seorang sahabat saya, seorang rekan kerja yang duduknya di samping meja kerja saya, yang selalu bercerita bercanda dan ngrumpi bersama. Ya…ibu Halimah (almh) telah berpulang ke haribaan Ilahi Rabbi, kemarin sore tanggal 31 Mei 2017, saat sedang menjalani cuci darah untuk pertama kalinya. Innalillahi Wa Innailaihi Roji’un

Sehari sebelumnya saya bersama dua orang teman  sempat membesuknya di rumah sakit, karena pagi harinya masuk rumah sakit dalam kondisi tidak sadar. Tetapi syukurlah saat kami tengok beliau sudah sadar kembali dan bahkan sempat memanggilku meskipun dengan suara yang tidak lagi terlalu jelas. Saat saya menjawab” ya bu… apa yang ibu inginkan?” beliau menjawab “ Tolong doakan saya”. Itulah permintaan terakhir yang saya dengar karena sesudah itu beliau tidak mengatakan apa-apa lagi kepada saya. Dan ternyata kemarin menjelang maghrib berita duka itu saya terima.

Pagi menjelang siang tadi saya ikut melihat dan mendokumentasikan saat beliau dimandikan. Saya melihat tahap demi tahap prosesi memandikannya. Saya melihat kedua putrinya ikut memandikan dengan sesekali mendongak karena khawatir air matanya akan menetes pada jasad ibunya. Tentu saja saya tak kuasa menahan haru menyaksikan pemandangan seperti itu. Tetapi saya lebih mengambil sebuah pelajaran (ibrah) dari apa yang saya saksikan “sekarang saya menyaksikan seorang teman dimandikan oleh keluarga dan teman-temannya karena telah menjadi jenazah, maka kami yang ditinggalkan juga akan mengalami hal serupa di waktu entah kapan dan di mana”

Saya mengambil napas dalam, hanya seperti inilah kehidupan di dunia. Tak terasa umur semakin bertambah dan jatah hidup di dunia semakin berkurang. Kematian orang-orang yang dikenal secara berturut-turut semoga bisa semakin mematrikan diri untuk selalu mempersiapkan menghadapi peristiwa serupa.

Tak sepantasnya waktu yang masih kita miliki digunakan untuk berpacu dengan urusan dunia semata, tanpa mengindahkan apakah yang kita lakukan benar atau salah, halal atau haram.

Ya Allah…hindarkanlah hamba dari perbuatan sia-sia dan tak bermanfaat untuk bekal menghadap-Mu kelak. Aamiin…

Hari Sabtu Hari Pertama Ramadhan

Hari ini siapapun tahu merupakan hari Sabtu, dan hari ini siapapun umat Islam juga tahu merupakan hari pertama bulan Ramadhan 1438 H. Malam dini hari tadi semua muslim yang menjalankan puasa tentunya melaksanakan makan sahur, kecuali yang bangun kesiangan. Terus apa istimewanya hari sabtu sebagai hari pertama bulan ramadhan? Apa pula istimewanya makan sahur tadi malam sebelum shubuh?

Kebanyakan orang sepakat makan sahur hari pertama ramadhan adalah makan sahur yang istimewa, selain karena kegembiaraan menyambut bulan istimewa juga karena pada umumnya sehari sebelum puasa para ibu rumah tangga pergi ke pasar membeli bahan makanan untuk dimasak khusus buat makan sahur. Jika biasanya cukup makan dengan lauk dan sayur seadanya, maka pada umumnya makan sahur pertama ada menu istimewa yang dihidangkan oleh para ibu, entah itu berupa ayam, daging sapi, ikan, atau bahkan masakan lain yang lebih istimewa.

Tetapi di sini saya tidak akan menceritakan masakan istimewa apa yang saya masak untuk anak-anak saya dan saya sendiri buat makan sahur tadi malam. Karena ada yang terputar di kepala saya lebih dahsyat dibanding ingatan tentang masakan yang baru saya masak kemarin. “Video” di otak saya yang telah terputar entah berapa ratus atau ribu kali semakin jelas dan bening terputar di kepala saya hari ini. Terlebih hari pertama bulan ramadhan tahun ini yang jatuh tepat pada hari sabtu, maka “video” itu semakin bening lancar saja terputar tanpa gangguan sama sekali

“Video” ini bukan merupakan rekaman kejadian istimewa yang membahagiakan seperti video sebuah pernikahan atau kelahiran jabang bayi. Bukan! Video ini merupakan rekaman kejadian pahit yang sangat getir dirasakan dan menancap di hati terdalam saya. Sehingga ingin sekali saya menghapus atau merusak rekamannya sejak bulan-bulan pertama kejadian, tetapi sekuat tenaga saya mencoba, sampai detik ini belum juga membuahkan hasil sedikitpun. Karena tak berhasil menghapusnya sekarang saya berniat tak akan lagi berusaha menghapusnya, supaya tidak ada lagi perasaan gagal dan mengutuk ketidakberhasilan.

Sebaliknya  sekarang saya ingin menuliskannya di blog ini, siapa tahu setelah menuliskan saya menjadi lebih ringan menyimpannya di otak. Tetapi tulisan ini mungkin lumayan panjang, jika pembaca tak ingin melanjutkan membacanya tidak mengapa. Namun jika ingin melanjutkan dengan senag hati saya persilahkan.

Baiklah berikut isi video itu:

Hari Sabtu, tanggal 1 Ramadhan 1430 H, saya terbangun makan sahur agak terlambat, karena kecapekan setelah sehari sebelumnya memasak beberapa masakan untuk persiapan sahur. Saat terbangun, saya dapati suami sudah makan sahur duluan, memang sudah sifat suami saya kalau tahu saya tidur nyenyak karena kecapekan beliau tidak akan membangunkan atau mengganggu saya.  Karena waktu tinggal beberapa menit lagi saya langsung membangunkan anak-anak saya yang masih SD kelas 2 dan SMP Kelas 2.

Saat saya makan sahur sambil menyuapi makan sibungsu, suami telah selesai makan sahur. Saya tidak lagi memperhatikan apa yang dilakukan suami setelah masuk kamar. Tetapi tidak lama kemudian suami menuju kamar mandi mengambil air wudlu untuk siap-siap melaksanakan sholat shubuh. Hanya hitungan menit setelah kembali ke kamar setelah ambil air wudhlu, suami berteriak di depan kamar. Saya yang masih nyuapi bungsu seketika berlari menuju suami yang sudah memegang sarung hendak memakainya tetapi tangan kirinya memegangi dadanya. Suami meminta untuk menelponkan salah satu rekan kerjanya untuk mengantarkan ke rumah sakit, maka anak kedua yang masih SMP kuminta untuk menelponnya.

Sambil menunggu rekan datang, suami saya tuntun duduk di kursi sofa dan kutawari minum, tetapi beliau menolak dengan mengatakan “ Tidak, saya puasa”. Saat itu sudah terdengar adzan subuh, sehingga kalau beliau minum tentunya menjadi batal puasa. Saat duduk dikursi sofa tersebut suami memeluk pinggang saya dan mengatakan” aku njaluk ngapuro yo nduk” yang artinya “saya minta maaf ya nduk”. “Nduk” adalah panggilan sayang suami pada saya. Karena panik saya tak sempat membalasnya. Kemudian suami mengatakan untuk kedua kalinya permintaan maaf itu, sehingga saya sadar dan langsung menjawab “ Iyo mas, podho-podho aku yo njaluk ngapuro yo mas”. Untuk selanjutnya suami mengatakan “ Aku wis ra kuat” sambil rebahan terlentang di kursi, yang artinya  “saya sudah tidak kuat”. Setelah mengatakan tidak kuat dia memanggil nama anaknya satu per satu pertama nama anak bungsu, kemudian anak tengah dan terakhir dia memanggil anak sulung yang saat itu tengah menuntut ilmu di salah satu pondok pesantren di jawa.

Saya tidak bisa mengatakan apa-apa, selain mengatakan “sabar ya mas sebentar lagi kita akan ke rumah sakit”. Tak lama rekan kami datang, dan saat rekan tersebut memanaskan mobil, suami sudah tidak sabar ingin naik ke mobil dengan berjalan sendiri. Tetapi kucegah dan selanjutnya kami tuntun untuk memasuki mobil. Di dalam mobil suami tak henti-hentinya mengucapkan ‘Laillahaillallah” dan “Astaghfirllah”. Dan juga meminta maaf kepada rekan yang mengantar dan mengemudi mobil.

Perjalanan ke rumah sakit lumayan agak jauh dan sepanjang perjalanan disela-sela menyebut asma Allah, suami mengeluhkan sesak napas sambil memegang dadanya. Saya hanya bisa mengatakan “sabar ya mas sudah hampir sampai” dan  “yang kuat ya mas, ingat anak-anak ya mas” dan suara istighfar suami semakin lemah begitu mendekati rumah sakit. Setelah sampai saya langsung turun dan memanggil-manggil suster jaga Ruang UGD, tetapi mereka tidak ada yang mendengar, mungkin mereka ketiduran setelah makan sahur. Akhirnya dibantu teman yang menyusul ke rumah sakit, suster dibangunkan dan  keluar. Selanjutnya suster dan teman-teman berusaha menurunkan suami, tetapi suami tidak lagi dapat berjalan dan tak ada lagi suara  seperti saat masih di rumah, sehingga tinggal diangkat untuk di bawa masuk ke ruang UGD.

Selama di UGD suami mengeluarkan cairan muntahan seperti busa dari mulut. Saat suster mamasangkan selang oksigen, yang kulihat malah busa keluar dari hidungnya. Tak lama mata suami kelihatan membalik, saya kira saat itu suami sedang koma. Dokter berusaha menekan-nekan dadanya membantu pernapasan, tetapi suster mangatakan “dok, kukunya sudah hitam”. Seketika pandanganku beralih dari wajah suami ke kuku tangannya  dan memang saya lihat sudah hitam”

Langsung saya menjerit dan memeluk badan suami saya sambil meratap” maas….maas…..mengapa jadi begini”. Dokter menanyakan pada saya ”apa bapak memiliki riwayat sakit jantung?” sambil menangis saya menjawab “iya dok, dulu pernah masuk ICU”. Lantas dokter hanya menjawab” Oh….” kemudian pergi untuk selanjutnya saya menangis sejadi-jadinya sambil duduk bersandar di dinding ruang UGD dekat suami saya terbujur.

Selanjutnya sudah banyak teman yang datang ke ruang UGD, salah seorang teman perempuan  membangkitkan saya dan menuntun saya  duduk di bangku di luar ruang UGD. Saya meminta anak tengah saya segera dijemput, dan tak lama anak tengah saya muncul langsung saya dekap dan mengatakan ’”Bapak sudah ndak ada ndo” , maka anak saya manjawab ”Kenapa cepat sekali bu..?” sambil menangis pula. Saya tak bisa menjawab apa-apa kecuali menangis

Selanjutnya mobil yang membawa jenazah suami sudah siap dan jenazah suami dimasukkan  sayapun ikut di dalamnya ditemani teman yang membangkitkanku dari lantai tadi.  Pagi itu sekitar jam 6.00 wita kami sampai di depan rumah dan sudah banyak tetangga dan teman yang menunggu kami datang, dan ada beberapa tetangga yang menangis  meraung-raung menyambut kedatangan jenazah suami. Seketika saya mengambil anak bungsu saya yang digendong mbaknya, tetapi si bungsu sepertinya belum begitu paham apa yang terjadi.

Hari itu juga tidak lupa orang tua dan  saudara-saudara di jawa kami kabari dan mereka meminta untuk diterbangkan ke jawa, tetapi dengan berbagai pertimbangan kami akhirnya memakamkan jenazah suami di Luwuk tempat domisili kami hampir dua puluh tahun. Yang menambah keprihatinan saya anak sulung yang sedang mondok tidak sempat melihat jenazah ayahnya, karena tidak dapat mengejar penerbangan dari bandara juanda hari itu. Sehingga hari senin anak saya beserta kedua orang tua dan adik ipar saya sampai di Luwuk. Tetapi anak saya meminta selama prosesi pemberangkatan jenazah ayahnya agar Hp saya disambungkan dengan Hpnya karena dia ingin mendengar dan mengetahui situasi di rumah saat itu.

Akhirnya hari itu ba’da Ashar kami memakamkan jenazah suami di pekuburan yang letaknya lumayan jauh dari rumah kami. Sebelumnya kami menyolatkannya, dan alhamdulillah saya dan anak kedua  dengan tegar dapat berdiri ikut menyolatkan jenazah orang tercinta kami. Banyak yang berbisik mengatakan “ Bu nur tabah dan tegar”. Tetapi sebenarnya saya hanya berusaha untuk tabah dan tegar karena dihadapanku ada dua orang anak dan satu lagi yang masih jauh yang menjadi tanggung jawabku sepenuhnya sepeninggal suami.

Sepulang pemakaman hari menjelang mahgrib, tetapi di rumah sudah tersedia berbagai macam kue untuk buka puasa, entah siapa yang menyediakan, aku tak sempat menyakan kepada siapapun, setelah selesai buka para tamu teman dekat kami pada pamit mau pulang. Tetapi saya meminta beberapa bapak dan ibu ada yang tidur di rumahku malam itu. Saya merasa tak ada kekuatan jika langsung sepi tak ada orang menemani. Akhirnya malam itu dengan ditemani beberapa orang laki-laki yang tidur di lantai ruang tamu dan dua orang teman perempuan yang menemaniku tidur di kamar, entah jam berapa aku bisa tertidur dan bangun untuk sahur hari kedua, tanpa ada lagi suami yang bersahur. Dan untuk seterusnya hanya doa yang bisa kami panjatkan untuknya.

Demikian isi “video” di memori otak telah saya tuliskan, terimakasih pembaca yang telah menyimak, semoga di setiap peristiwa  kematian menjadi pembelajaran bagi kita yang masih hidup. Setidaknya satu hal kita tahu kematian juga akan menghampiri kita entah kapan waktunya dan di mana tempatnya. Yang wajib kita lakukan adalah persiapan sebanyak mungkin untuk pulang ke haribaan-Nya dan senantiasa berdoa semoga kita nanti menghadap-Nya dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin….

Menikah Lebih Enak Daripada Menjomblo

menikah (ensiklopediaindonesia.com)
(sumber gambar: ensiklopediaindonesia.com)

Tulisan ini terinspirasi salah satu komen mas Nur Irawan di postingan Mbak Cinta yang berjudul 22 Mei dan Harapan , yang mengatakan “kalau mempunyai pasangan itu enak”. Dan bagi para anggota grup WhatssApp Ruang  Bloger tentu  sudah tahu betul bahwa mas Nur memang “suhu” nya dalam memotivasi para jomblowan dan jomblowati untuk segera menikah.

Sebagai seorang yang pernah menjadi jomblo, kemudian menikah selama lebih dari 20 tahun, kemudian ditakdirkan menjadi jomblo lagi tentu  sedikit banyak saya dapat membandingkan mana yang lebih enak menikah atau menjomblo. Tentu saja perbandingan tersebut bisa berbeda untuk  orang lain, berdasarkan kondisi kehidupan menikahnya. Tetapi di sini saya hanya bisa membandingkan berdasarkan kehidupan saya pribadi.

Saya sependapat dengan mas Nur,menikah itu enak. Dan Karena menikah enak, makanya jauh lebih banyak orang ingin menikah daripada tidak. Selain disunahkan dalam agama,  menikah juga mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan yang selalu dirindukan semua orang. Apa saja kesenangan menikah dari sudut pandang perempuan? Berikut saya uraikan berdasarkan pengalaman dan pengamatan.

  1. Berpeluang memiliki keturunan.

Inilah tujuan utama dari menikah, yakni meneruskan keturunan.  Sebagai negara yang  menganut Pancasila, di Indonesia tak ada peluang bagi  seorang perempuan yang ingin memiliki keturunan tanpa menikah, meskipun kadang kita temukan seorang perempuan terpaksa melahirkan tanpa memiliki suami karena suatu hal. Tetapi secara normalnya jika ingin memiliki keturunan ya harus menikah. Mungkin berbeda dengan segelintir negara barat yang memperbolehkan seorang perempuan mengandung dengan membeli sperma dari sebuah bank sperma,sehingga tanpa harus menikah.

Memiliki keturunan (anak) merupakan kesenangan yang luar biasa. Dan ini bisa dirasakan setelah seseorang memperolehnya. Meskipun kesenangan itu juga suatu ujian, karena memiliki anak juga diikuti tanggung jawab dunia dan akhirat yang tidak mudah dijalankan.

  1. Lebih dihargai di masyarakat.

Seorang perempuan yang sudah menikah jelas lebih dihargai di masyarakat dibanding  seorang gadis. Seorang wanita bersuami lebih dihargai karena mempertimbangkan suaminya. Bagi seorang laki-laki jika ingin menggoda wanita tentunya tidak berani menggoda istri orang, karena bisa saja mendapat kemarahan sang suami. Dalam tatanan sosial masyarakat di Indonesia menghargai seorang perempuan bersuami salah satunya dengan cara memanggil nama bu …(dikuti nama suami). Dan konon penyebutan itu mengandung arti lebih menghargai dibanding menyebut nama asli dari perempuan itu.Dan hal itupun juga kurasakan bahwa dipanggil sebagai bu Bambang bagiku lebih “nyes” di hati dibanding dipanggil Bu Nur. Bahkan sampai hari ini ketika Pak Bambang sudah tiada sejak 8 tahun lalu masih ada beberapa orang yang memanggilku dengan sebutan Bu Bambang.

Dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat peran seorang istri juga selalu mengikuti kegiatan suami. Jika suami seorang yang terpandang atau berpengaruh, maka sang istri juga ikut berpengaruh di masyarakat . Dan tak jarang setelah suami meninggal atau bercerai maka sang istri menjadi redup pengaruhnya di masyarakat.

  1. Tidak Merasa Sendiri

Perasaan “tidak merasa sendiri” berlaku baik dalam urusan sehari-hari yang berhubungan dengan keluarga maupun masyarakat. Perempuan beristri akan selalu ada yang menemani dalam semua kegiatan kemasyarakatan, misalnya menghadiri undangan Hajatan tetangga/saudara/teman. Dan rasanya aneh jika ada seorang perempuan bersuami  hanya seroang diri menghadiri acara yang dimaksud. Saat awal-awal menjanda, saya sering merasa kecil hati pada  setiap datang ke undangan melihat teman-teman atau para undangan lain, para wanitanya  selalu menggandeng lengan pasangannya, sedangkan saya hanya berjalan sendirian. Perasaan itu sampai sekarang masih sering muncul, meskipun tidak “semelow” dulu.

Selain itu, perempuan bersuami akan selalu memiliki tempat untuk berkeluh kesah menghadapi berbagai persoalan hidup yang dijalani terutama menyangkut pengasuhan dan masa depan anak.

Tidak merasa sendiri juga sangat terasa di waktu malam hari. Ya, seorang yang menikah sudah pasti ada teman tidur setiap malam yang dapat memberi kehangatan  yang merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia secara halal bahkan memperoleh pahala.

Tidak merasa sendiri juga terasa di momen-momen istimewa, seperti pada bulan Rhamadhan dan hari raya. Menjelang datangnya bulan Rhamadan seperti sekarang ini merupakan momen-momen yang dinantikan oleh pasangan muslim. Betapa nikmatnya sahur dengan suami dan anak, serta berbuka dengan mereka. Merencanakan dan mamasak menu untuk sahur dan berbuka untuk orang-orang tercinta termasuk suami adalah momen-momen yang sungguh membahagiakan bagi seorang perempuan.

Sebenarnya masih banyak hal lain yang dapat dituliskan terkait enaknya menikah, tetapi cukuplah ini saja yang saya paparkan. Namun demikian enaknya menikah dibanding sendiri alias jomblo mungkin tidak berlaku bagi sebagian orang. Saya ingat saat awal-awal saya ditinggalkan suami. Ada seorang teman yang belum lama bercerai. Saat itu  kami yakni beberapa perempuan di tempat kerja secara tidak sengaja ngobrol tentang enak mana antara punya suami atau tidak. Jika tidak bersuami katanya enak karena setiap hari tidak perlu memikirkan memasak atau tidak.  Dan secara refleks saya langsung nyeplos “ Jauh lebih enak bersuami dong” tanpa ingat kalau ada teman habis bercerai. Dan serta merta teman tadi menimpali” Kalau saya lebih enak tidak punya suami, bu Nur….” Oh seketika saya sadar bahwa saya dan teman saya memiliki kasus yang berbeda meskipun kami sama-sama tak lagi bersuami saat itu. Kemudian tanpa lama-lama untuk mengurangi rasa bersalah, saya langsung berkata pada teman tersebut” Oh iya ya bu, karena kita beda kasus ya …”

Demikian yang dapat saya uraikan sekali lagi hanya berdasar pengalaman pribadi, mungkin pembaca ada yang mau menambahkan enaknya menikah terutama yang sudah menikah atau pernah menikah tentunya. Mohon di bagi di kotak komentar ya….

Akhirnya bagi pembaca dan sahabat bloger muslim, selamat menyongsong bulan suci Ramadhan. Semoga amal ibadah puasa kita nanti diterima Allah SWT. Aamiin….

Mohon Maaf Lahir Bathin….

Kenangan Masa SMA, Part 3

Sebagai kelanjutan cerita  beberapa hal yang masih melekat dalam ingatan saat SMA Part 1 dan Part 2, kini saya tuliskan dua kisah lainnya berikut ini.

Membolos Saat Pelajaran Kosong

Penah membolos adalah salah satu kenangan yang tak terlupakan sampai sekarang. Seandainya membolos saya saat itu tidak ketahuan kepala sekolah mungkin saja sekarang  sudah saya lupakan. Tetapi karena terjadi sebaliknya maka peristiwa itu melekat di bagian memori otak saya sampai sekarang. Ceritanya saat itu saya duduk di kelas II, saya dan beberapa teman  sekelas sudah beberapa minggu/bulan sebelumnya mengikuti les Kimia di Solo. Les kimia dimulai jam 13.30, padahal jam 13.00 kami baru pulang sekolah. Sedangkan perjalanan ke solo dengan naik bus bisa menempuh waktu 30 menit, maka kami sepulang sekolah tanpa sempat makan langsung berjalan ke jalan raya untuk mengejar atau menunggu bus  menuju tempat les. Seringkali di dalam bus perut kami  keroncongan tetapi kami tahan  dan sepulang dari les sekitar   jam 15.00 – 15.30  barulah kami makan siang di rumah.

Suatu hari pas hari jadwal les, pelajaran terakhir di kelas kami  yakni Bahasa Indonesia gurunya tidak masuk dan tidak ada tugas yang harus dikerjakan, maka diantara kami yang mengikuti les kimia ada yang berinisiatif untuk pulang duluan supaya sempat makan terlebih dahulu di rumah. Diantara kami yang berani pulang lebih dulu (mbolos) ada 2 orang perempuan termasuk saya.`Sedangkan yang laki-lakinya ada banyak saya lupa jumlahnya. Akhirnya hari itu untuk pertama dan terakhir kalinya kami sempat makan siang sebelum les.

Namun apa yang terjadi keesokan harinya? Kelas kami heboh, karena ternyata kami yang membolos kemarin dicari-cari oleh guru wali kelas dan kepala sekolah. Dan pagi itu kami  disuruh langsung menghadap kepala sekolah di ruangannya. Saat kami semuasudah  masuk ke ruangan beliau, salah seorang teman saya yang kebetulan sebagai ketua kelas akan duduk di kursi yang ada di ruangan itu, namun kepala sekolah langsung membentak dengan berucap “ Jangan duduk di situ! kamu kira pangkatmu itu apa, mau duduk di situ?”

Seketika nyali kami menjadi kecil. Dan kami mendapat kemarahan yang luar biasa dari kepala sekolah atas membolosnya kami. Bahkan saya dan teman perempuanku yg juga ikut mbolos mendapat kalimat menyakitkan “Ini juga perempuan berani mbolos, Perempuan moral apa itu?” Duh…saat itu saya merasa benar-benar terhina, bagiku kalau moral sudah dipertanyakan, berarti saya dianggap seperti perempuan yang sudah tidak ada harganya. Di ruang kepala sekolah kami tak mendapat kesempatan sedikitpun untuk berbicara. Tapi sekeluarnya dari ruang kepsek kami menuju ruang BK dan meminta kesempatan membela diri kepada guru BK. Setelah kami panjang lebar berbicara di hadapan guru BK, prinsipnya Guru BK memahami alasan kami membolos, tetapi tetap saja beliau menyalahkan kami, “Apapun alasannya, membolos adalah sebuah pelanggaran” begitu kata beliau. Ya sudah, kami menerima apa yang disampaikan guru BK, tetapi yang sulit saya lupakan adalah hardikan kepala sekolah yang mengatakan” Perempuan Moral apa itu?” yang membuatku merasa sangat sedih sampai berminggu-minggu. Syukurlah saya punya teman curhat saat itu yakni sahabat penaku.

Mengikuti pengajian kelompok  yang dianggap radikal

Suatu hari saat masih duduk di kelas II pula,  ketua kelas kami yang kebetulan juga tetanggaku mengundang kami teman-teman perempuan satu kelas untuk mengikuti pengajian khusus perempuan. Tentu saja saya tertarik, karena saya pikir di pengajian tersebut pasti akan dibahas masalah-masalah terkait wanita. Pada hari Minggu di tanggal yang ditentukan saya berangkat ke tempat pengajian yang dimaksud, yakni sebuah rumah yang sepertinya tidak ada penghuninya yang terletak kira-kira 1 km dari rumahku yang di kota. Ternyata yang mengisi pengajian seorang laki-laki yang masih muda, dan isi pengajiannya bukan hanya khusus masalah kewanitaan tetapi lebih banyak materi umum tentang Islam. Pemateri benar-benar menguasai materi yang disampaikan dan benar-benar memiliki cara menarik dalam berceramah sehingga saya merasa tertarik untuk mengikuti pengajian berikutnya. Pada pertemuan pertama kami diberi ceramah tentang ayat-ayat Alqur’an yang mewajibkan perempuan muslim menutup auratnya. Pada saat itu masih sangat jarang ditemukan perempuan mengenakan jilbab (kerudung) lengkap dengan baju panjangnya. Tetapi pada pertemuan selanjutnya ternyata kami mendapat ceramah yang begitu mencengangkan bagi saya, yakni tentang syariat-syariat Islam yang dihubungkan dengan sistem pemerintahan kita. Inti dari cermah mereka adalah  bahwa sistem pemerintahan di Indonesia tidak sesuai dengan syariat Islam. Dan penceramah mengatakan bahwa kita harus berjuang untuk menegakkannya.

Jika ceramah tersebut disampaikan di masa kini, mungkin orang menganggapnya biasa dan tidak menimbulkan kekhawatiran. Tetapi di masa itu, orang menyebut sebagai jaman ORDE BARU, ada orang membicarakan kejelekan/kekurangan pemerintah adalah hal yang sangat serius. Pada masa itu kebebasan berbicara warga negara tidak sesuai yang tercantum dalam UUD 1945. Warga negara yang berbicara menentang pemerintah atau sistem pemerintahan dan didengar oleh aparat dapat dipastikan akan ditangkap. Demonstrasi merupakan hal yang tabu dan tak boleh dilakukan. Jadi dapat dibayangkan bagaimana perasaan kami anak-anak perempuan SMA mendapat ceramah tentang ketidaksetujuan terhadap sistem pemerintahan yang sudah berjalan selama puluhan tahun.

Maka pada pertemuan berikutnya  peserta pengajian tinggal sedikit, kalau tidak salah dari awalnya sekitar 30 an orang, setelah beberapa kali pertemuan tinggal 7 orang. Saya menduga teman-teman  menceritakan isi pengajian yang kami dengar kepada orang tuanya, sehingga orang tua mereka melarang anaknya mengikuti lagi karena khawatir resikonya. Tetapi tidak tahu mengapa saya tidak menceritakan isi pengajian tersebut kepada ayah ibuku dan entah mengapa pula saya masih merasa tertarik untuk datang ke pertemuan berikutnya, bahkan tanpa bisa menolah saya ditunjuk sebagai ketua kelompok Pengajian Putri yang saat itu kelompok pengajian itu diberi nama “Usroh” tingkat Kabupaten.Untuk kelompok pengajian putranya konon juga ada tetapi saya tidak tahu namanya, karena pertemuannya tidak pernah sama baik waktu maupun tempatnya. Kelompok-kelompok pengajian seperti ini kebanyakan orang atau media menyebut sebagai kelompok radikal.

Setelah menjadi anggota dan ketua  Usroh Kabupaten, tahap berikutnya saya harus mengikuti pertemuan di tingkat lebih atas, sebut saja tingkat karesidenan yang meliputi beberapa kabupaten.  Tempat pengajian di tingkat lebih atas tersebut letaknya agak jauh dari kota kabupaten saya. Dan rumah yang dipakai pertemuan juga rumah kosong yang letaknya agak tersembunyi. Saya sempat beberapa kali mengikuti pengajian di tempat itu dengan penceramah utama sama dengan penceramah yang di kabupaten, tetapi dengan teman-teman yang baru yang berasal dari kabupaten lain.

Bebarap waktu kemudian,rupanya kegiatan pengajian yang kami ikuti mulai tercium oleh aparat keamanan. Sehingga saya mendapat kabar penceramah utama kami menjadi target penangkapan polisi. Di samping itu memang ada penceramah kondang yang sudah ditangkap polisi dengan dakwaan Subversib (makar).  Mendengar kabar itu saya jadi ketakutan, sehingga mulai saat itu saya tidak pernah datang lagi di pengajian tersebut.

Setelah beberapa kali tidak datang di pengajian, dua orang pengurus di tingkat lebih atas  datang ke rumah. Saat itu saya sedang tinggal sendirian di rumah, dan saat mereka memberi salam saya sedang di kamar. Meskipun di dalam kamar saya mengenal suara mereka, dan karena saya bertekad tidak mau bertemu mereka lagi maka saya memutuskan untuk tidak menjawab salam mereka dan akhirnya mereka pergi.

Sejak saat itu saya  tidak pernah lagi bertemu dan berkomunikasi  dengan mereka.  Tetapi sampai lulus SMA rasa khawatir itu masih ada, sehingga saya tidak mau mendaftar kuliah di wilayah sendiri (Solo) dengan alasan takut nanti dicari lagi oleh para pengurus Usroh.

Bagaimana Melaksanakan PTK ? (PTK Part 5: Persiapan/perencanaan)

PTK (bandungbookcenter.blogspot.com)
Sumber gambar: bandungbookcenter. blogspot.com

PTK part 1, PTK Part 2, PTK Part 3PTK Part 4

Setelah proposal selesai  kita buat, maka selanjutnya adalah persiapan/perencanaan  dalam rangka pelaksanaan PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Persiapan merupakan bagian utama dari perencanaan, yakni tahap pertama dari suatu siklus yang akan kita lalui dalam PTK. Pada tahap persiapan ini ada beberapa hal yang harus kita lakukan. Hal-hal tersebut antara lain :

Meminta surat ijin penelitian kepada kepala sekolah

Sebelum melakukan penelitian seyogyanya kita meminta ijin kepada kepala sekolah yang merupakan lokasi penelitian kita. Jika kita melakukan penelitian di sekolah sendiri (kelas yang kita ampu) maka akan sangat mudah meminta ijin kepada kepala sekolah, karena kita tidak perlu meninggalkan tempat kerja dalam mengurus surat ijin penelitian. Surat ijin penelitian diperlukan sebagai legalitas dalam pelaksanaan penelitian. Disamping itu tidak menutup kemungkinan setelah kepala sekolah mengetahui bahwa kita akan melakukan penelitian, kepala sekolah akan mambantu menfasilitasi apa yang kita perlukan selama pelaksaan penelitian. Berikut contoh Surat Ijin

Mempersiapkan data pratindakan.

Sebagai peneliti kita perlu mempersiapkan data yang menguatkan permasalahan yang kita soroti dalam latar belakang masalah. Jika kita menuliskan bahwa permasalahan yang kita hadapi adalah hasil belajar siswa yang masih jauh dari harapan. Maka kita sebaiknya menyiapkan data bahwa hasil belajar siswa sebelum tindakan PTK memang masih rendah (kurang dari harapan). Ibaratnya kita menuduh siswa hasil belajarnya masih rendah kita juga harus membuktikan tuduhan tersebut. Hasil belajar siswa bisa kita peroleh dari hasil ulangan harian pada materi sebelum tindakan penelitian. Jika permasalahan yang kita soroti adalah minat belajar siswa, maka kita mesti mencari data yang menguatkan bahwa siswa memang masih rendah minat belajarnya, misalnya kehadirannya, keaktifannya di kelas, dan sebagainya.

Berikut contoh  Kondisi awal siswa

Mengelompokkan Siswa

Setelah memperoleh data hasil belajar siswa pada pratindakan, maka kita mengelompokkan mereka berdasarkan  kemampuan (daya serapnya), jenis kelaminnya, bahkan jika perlu berdasarkan suku, agama, dan sebagainya. Dalam pengelompokkan hendaknya diusahkan terdiri atas siswa-siswa yang heterogen. Hal ini dimaksudkan supaya ada kerjasama dan penerimaan terhadap perbedaan di kalangan siswa, sesuai falsafah pembelajaran kooperatif yang mementingkan kerjasama/gotong royong dan penerimaan terhadap keberagaman.  (Ini jika kita menggunakan model pembelajaran kooperatif, seperti team quiz).

Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP mutlak harus dibuat sebelum PTK mulai kita laksanakan, karena  dalam RPP dapat diketahui langkah-langkah yang akan kita laksanakan selama proses pembelajaran. Yang perlu diingat pada bagian langkah-langkah pembelajaran bagian “Kegiatan Inti” harus sesuai dengan langkah-langkah yang terdapat pada model pembelajaran yang akan kita terapkan. Misalnya seperti contoh pada proposal saya menggunakan model pembelajaran Team Quiz, maka sintaks model pembelajaran tersebut kita tulisakn pada bagian Kegiatan Inti dari poin langkah-langkah pembelajaran. Berikut contoh RPP

Membuat Format Observasi/Pengamatan

Salah satu tahapan dalam PTK adalah dilakukannya pengamatan (Observasi)  yang dilakukan oleh kolaborator. Maka sebelum memulai pelaksanaan PTK peneliti (pada umumnya guru bidang studi) harus membuat Format/Lembar pengamatan. Lembar pengamatan ada dua macam yakni lembar pengamatan untuk siswa dan lembar pengamatan untuk guru. Poin-poin yang kita amati dan harus tertulis di dalam lembar pengamatan adalah poin-poin seperti dalam Langkah-langkah RPP atau sama dengan poin-poin dalam sintaks pembelajaran sesuai model yang kita terapkan. Berikut contoh Lembar Observasi

Membuat Format Kuesioner dan Lembar Jurnal Guru

Jika dalam bab III kita menuliskan pada bagian “cara memperoleh data” salah satunya dengan menggunakan kuesioner dan jurnal guru, maka kita juga harus menyiapkan Format Kuesioner dan Format jurnal guru. Format kuesioner berisi beberapa pernyataan/ pertanyaaan yang diisi/dijawab oleh siswa sebagi subyek penelitian. Sedangkan format jurnal guru, diisi oleh guru yang melaksanakan tindakan. Jurnal guru diisi hal-hal yang terkait proses pembelajaran yang dialami/dirasakan oleh guru. Berikut contoh Jurnal guru.

Menyiapkan Naskah Soal Postes

Soal postes sebenarnya ada di poin Evaluasi dari RPP. Tetapi harus kita pisahkan menjadi naskah tersendiri dan diperbanyak sesuai jumlah siswa (subyek penelitian). Berikut contoh  Postes

Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM)

Selain hal-hal yang diperlukan dalam pelaksanaan PTK, yang tidak kalah pentingnya adalah segala sesuatu yang diperlukan dalam  KBM juga harus dipersiapkan sebelum pelaksanaan PTK dimulai. Misalnya jika dalam kegiatan kita meminta siswa menuliskan jawaban tugas pada selembar karton, maka kita mesti siapkan karton dan spidolnya. Demikian pula jika dalam pelaksanaan tindakan ada tahap percobaan di Laboratorium, maka kita siapkan semua alat dan bahan yang diperlukan selama proses pembelajaran di laboratorium. Mengenai alat dan bahan sebenarnya sudah dituliskan di RPP. Demikan pula sebagai guru kita juga harus mempersiapkan materi pelajaran diantaranya melalui buku-buku maupun melalui Power Point yang akan kita tayangkan di kelas melalui LCD.

Demikian Perencanaan/persiapan pelaksanaan PTK sudah saya sajikan. Semua data yang kita peroleh saat penelitian melalui format-format yang  dibuat pada saat persiapan akan dijadikan bagian dari lampiran saat kita membuat laporan kelak setelah selesai pelaksanaan PTK.

Adapun bagaimana membuat laporan PTK, akan diuraikan pada tulisan berikutnya. InshaAllah …..

Demikian, semoga bermanfaat. Aamiin

Kenangan Masa SMA di Sukoharjo, Part 2

Bagian kisah ini sebenarnya sempat saya posting sebagai bagian dari Kenangan Masa SMA di Sukoharjo (part 1),Tetapi atas masukan Bang Ical karena ceritanya terlalu banyak dan panjang, maka saat itu saya potong bagian ini dan saya posting sebagai bagian 2. Mohon maaf yang sudah terlanjur membacanya di bagian 1, tak mengapa jika anda akan melewatinya. Bahkan yang belum membacanyapun jika tak ingin melanjutkan juga tak mengapa karena ini hanya kenangan pribadi semata. Tetapi jika anda ingin melanjutkan membaca saya sangat berterimakasih, siapa tahu dapat dijadikan pembelajaran untuk kita. Monggo… disilahkan.

Merasa Salah Pilih Jurusan di Kelas  IPA

Sebelum menerima rapor semester ganjil  kami diminta untuk mengisi blanko penjurusan. Sebenarnya saya lebih mantap masuk jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) tetapi karena nilai Pelajaran Fisika, Kimia, dan Biologi pada Mid Semester lumayan bagus, bahkan saya masih memperoleh rangking 1, maka ayahku memintaku dan meyakinkanku bahwa aku pasti bisa mengikuti pelajaran dengan baik di jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Selain itu alasan ayahku adalah kakakku sudah masuk IPS, dan kakak laki-lakiku yang sudah lulus SMA IPApun kuliah di jurusan IPS. Maka ayah benar-benar ingin saya masuk IPA, hingga akhirnya aku memilih jurusan IPA.

Setelah menerima rapor  semester 1 (ganjil) maka semester berikutnya (genap) kami berpindah kelas sesuai dengan jurusan yang diambil, dan saya memperoleh kelas I IPA2. Di kelas ini saya benar-benar merasa asing dan merasa rendah diri. Karena sebagian besar siswanya berasal dari SMP N 1 yang sudah saling akrab satu sama lain.

Dari obrolan mereka dan dari proses pembelajaran yang berlangsung saya jadi menemukan fakta dari kabar-kabar yang saya dengar sebelum mendaftar di SMA bahwa anak dari SMP N 1 memang cerdas-cerdas dan pintar-pintar. Yang saya ingat teman yang pintar-pintar itu kebanyakan anak guru. Hal ini menyebabkan saya semakin minder, sehingga saya berniat pindah ke jurusan IPS tanpa memberi tahu orang tua, namun ternyata tidak lagi diijinkan pihak sekolah.

Akhirnya dengan terpaksa saya tetap berada di dalam kelas I IPA2. Pada awal-awal di kelas I IPA2 saya merasa sangat tersiksa karena tidak bisa mengikuti pelajaran sebaik dan secepat teman-temanku yang berasal dari SMP N 1. Jangankan dapat rengking 1, nilai Biologi saja saya pernah dapat nilai merah (5). Yang jelas prestasiku sangat berbanding terbalik dengan saat masih di SMP dan saat masih di kelas I.7.

Tetapi lama-kelamaan saya mulai agak nyaman di kelas itu, karena teman-temanku tak pernah ada yang mengejek atau meremehkanku. Kami berteman dengan baik  dan teman-teman di kelas ini akhirnya menjadi teman saya sampai di Kelas III dengan nama IIIIPA2, sehingga kami menyingkatnya menjadi TIPASDA (Tiga Paspal Dua). Paspal adalah istilah lain dari jurusan IPA.

(Setelah lulus, berpuluh tahun tidak ada komunikasi dengan teman TIPASDA. Tetapi setelah ada ponsel kami terhubung lewat sms dengan  seorang teman karena saya mendatangi rumah teman tersebut saat saya pulang kampung dan memperoleh nomor ponselnya dari keluarganya. Setelah itu bertambah menjadi beberapa orang. Setelah ada sosmed kami terhubung via Facebook, kemudian melalui Grup BBM  dan akhirnya sampai sekarang kami lebih intens saling berkomunikasi melalui Grup Whatsapp yang diberi nama sesuai kelompok kami TIPASDA).

 Matematika dan Bahasa Inggris bukan lagi  pelajaran Favorit

Berbeda dengan saat masih di SMP yang sangat menyukai Mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika, setelah penjurusan di SMA saya tidak lagi menyukai kedua mata pelajaran tersebut, terutama matematika. Entah mengapa setelah duduk di kelas IPA SMA saya merasakan belajar matematika tidak mudah. Mungkin memang sebenarnya otak saya tidak cerdas, atau mungkin ada faktor lain, tetapi faktor guru rasanya berkontribusi sehingga saya tidak lagi senang pelajaran matematika.

Guru matematika kami di kelas IPA sering marah dan menghina murid jika  tidak bisa mengerjakan soal di depan kelas. Saya ingat sekali kata-kata yang selalu dilontarkan oleh guru matematika kami saat kami buntu tak dapat menyelesaikan soal di papan tulis. Beliau selalu mengatakan “Pantesnya jualan daun, kok sekolah” untuk yang murid perempuan, dan “ pantesnya jualan dawet, kok sekolah” untuk murid laki-laki. Kata-kata tersebut diucapkan dengan nada mengejek dan berulang-ulang.

Kata-kata itu mengandung arti bahwa anak bodoh tidak boleh bersekolah, dan pantasnya bekerja sebagai penjual dawet/daun. Sungguh jika kata-kata itu dimaknai di jaman sekarang merupakan pelecehan luar biasa dan melenceng dari tujuan pendidikan. Bukankah pendidikan diselenggarakan untuk memerangi kebodohan, dan jika orang bodoh tidak boleh sekolah kapan orang bodoh itu menjadi pintar.

Hmm…tapi jaman dulu tidak ada siswa  yang berani protes sedikitpun. Kami hanya tertunduk malu dan sakit hati tanpa bisa berbuat apa-apa. Bahkan kami masih berusaha mengikuti les di rumah bapak guru tersebut. Saya sampai ingat guru tersebut merupakan momok sebagian besar siswa, bahkan kakakku yang sudah lulus beberapa tahun dari sekolah tersebut mengatakan guru tersebut sebagai “guru gila, tapi pintar”. (Uff maaf, jangan ditiru kata-kata itu ya).

Untuk pejaran bahasa Inggris, sebenarnya gurunya tidak galak, tetapi cara mengajarnya sangat membosankan. Saat itu kami hanya menggunakan satu buku yakni buku paket tebal yang berjudul “STUDENT BOOK”. Pada buku tersebut selain banyak bacaan juga banyak sekali soal-soal latihannya baik berupa isian, menjodohkan, dan sebagainya. Pak guru Bahasa Inggris jarang sekali menjelaskan dan tanpa memberikan PR beliau seringkali masuk kelas langsung meminta kami membuka buku pada halaman tertentu. Dan setelah itu menyuruh kami secara urut sesuai tempat duduk untuk menjawab soal-soal tanpa diberi waktu untuk mengerjakan atau berfikir terlebih dahulu.

Bagi yang rajin mengerjakan sendiri di rumah kemungkinan besar dapat menjawab dengan benar, tetapi bagi yang jarang mengerjakan sendiri di rumah sudah bisa dipastikan saat giliran membaca dan menjawab soal akan kesulitan, dan kemudian pak  guru langsung melewatnya untuk dilemparkan ke teman di urutan duduk berikutnya.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana kami begitu tersiksa dan tidak nyaman selama belajar matematika dan bahasa Inggris. Jika mau masuk jam pelajaran matematika saya merasa sangat deg-degan, dan jika mau masuk pelajaran Bahasa inggris saya merasa mual. Hal ini kami jalani sampai kami lulus.

Favorit dengan Pelajaran bahasa Indonesia dan Geografi

Meskipun anak IPA, ternyata pelajaran yang saya sukai justru bukan pelajaran IPA, tetapi pelajaran Bahasa  Indonesia dan Geografi. Untuk pelajaran Bahasa Indonesia sebenarnya gurunya biasa-biasa saja, tetapi setiap ulangan selalu ada soal  mengarang. Entah mengapa kalau mengarang saya selalu senang mengerjakannya dan saya bisa menuliskannya dengan lancar, sehingga saya sering mendapat nilai bagus, meskipun  aku menulis asal bercerita saja sesuai isi otak saya saat itu.

Adapun pelajaran geografi saya menyenanginya karena faktor gurunya, yakni seorang bapak yang selalu tampil rapi dan trendi dengan tubuh yang masih bagus. Tetapi bukan hanya penampilan fisiknya yang menarik, juga cara mengajarnya yang jelas, dan sikapnya yang santun.  Saya masih ingat paling senang saat mempelajari tentang letak bintang, dengan diketahui garus bujur dan garis lintangnya maka dapat digambarlah letak bintang.

Demikian dan akan disambung bagian 3 pada postingan berikutnya. In Sha Allah….